Pages

Minggu, 05 Mei 2013

Makalah Modifikasi Perilaku Desensitisasi Sistematis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Desensitisasi sistematis (juga dikenal sebagai terapi paparan lulus atau counterconditioning) adalah jenis terapi perilaku digunakan dalam bidang psikologi untuk membantu secara efektif mengatasi fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Lebih khusus lagi, itu adalah jenis terapi Pavlov dikembangkan oleh psikiater Afrika Selatan, Joseph Wolpe. Pada tahun 1950, Wolpe menemukan bahwa kucing dari Universitas Wits bisa mengatasi ketakutan mereka melalui paparan bertahap dan sistematis.
 Proses desensitisasi sistematis terjadi dalam tiga langkah.. Langkah pertama desensitisasi sistematis adalah penciptaan hirarki merangsang kecemasan stimulus. Langkah kedua adalah belajar dari relaksasi atau teknik mengatasi. Setelah individu telah diajarkan keterampilan ini, ia harus menggunakannya dalam langkah ketiga untuk bereaksi terhadap dan mengatasi situasi dalam hirarki mapan ketakutan. Tujuan dari proses ini adalah untuk individu untuk belajar bagaimana untuk mengatasi, dan mengatasi rasa takut dalam setiap langkah hirarki.
Untuk lebih jelas mengenai desentisisasi sitenmatis ini kami akan memberikan penjelasan lebih rinci berikut ini.




B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana konsep teknik desensitisasi sistematik
2.      Bagaimana konsep kecemasan
3.      Bagaimana konsep fobia


















BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Teknik Desensitisasi Sistematik

1. PengertianTeknik Desensitisasi Sistematik
Teknik desensitisasi sistematik merupakan salah satu teknik perubahan  perilaku yang didasari oleh pendekatan konseling behavioral. Pendekatan konseling behavioral memandang manusia atau kepribadian manusia pada hakikatnya adalah perilaku yang dibentuk berdasarkan hasil pengalaman dari interaksi individu dengan lingkungannya
Perhatian konseling behavioral adalah pada perilaku yang nampak, sehingga konseling behavioral mendasarkan diri pada penerapan teknik dan prosedur yang berakar pada teori belajar, yakni menerapkan prinsip-prinsip belajar secara sistematis dalam proses perubahan perilaku menuju ke arah yang lebih adaptif. Untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku serta untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih dapat menyesuaikan. Salah satu aspek yang paling penting dalam memodifikasi perilaku adalah menekankan pada tingkah laku yang didefinisikan secara operasional, teramati dan terukur.
Menurut Willis (2004: 70) tujuan konseling behavioral adalah untuk membantu konseli membuang respon-respon yang lama yang merusak diri dan mempelajari respon-respon baru yang lebih sehat.

 
Rahmawati menjelaskan ciri-ciri pendekatan konseling behavioral yaitu: 
a.       Pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik.
b.      Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling, misalnya  mengubah kebiasaan tertentu.
c.       Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah konseli.
d.      Penaksiran objektif atas hasil-hasil konseling.
Pendekatan konseling behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang  digunakan dalam melakukan perubahan perilaku berdasarkan tujuan yang akan dikehendaki atau dicapai. Salah satu teknik dalam pendekatan konseling behavioral yaitu desensitisasi sistematik. Desensistisasi sistematik merupakan teknik yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif, biasanya berupa kecemasan dan disertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap melalui pengkondisian klasik. Desensitisasi sistematik sering digunakan untuk mengurangi maladaptasi kecemasan yang dipelajari lewat conditioning (seperti fobia) tetapi dapat juga diterapkan pada masalah lain
Desensitisasi sistematik dikembangkan dalam konseling behavioral pada awal tahun 1950 oleh Joseph Wolpe. Asumsi dasar teknik ini adalah respon ketakutan merupakan perilaku yang dipelajari dan dapat dicegah dengan menggantikan aktivitas yang berlawanan dengan respon ketakutan tersebut. Respon khusus yang dihambat oleh proses perbaikan (treatment ) ini adalah kecemasan-kecemasan atau perasaan takut yang kurang beralasan dan respon yang sering dijadikan pengganti atas kecemasan tersebut adalah rileksasi atau penenangan. Prinsip dasar desensitisasi adalah memasukkan suatu respon yang bertentangan dengan kecemasan yaitu rileksasi
Joseph Wolpe (Willis, 2004: 71) menjelaskan  bahwa semua perilaku neurotic adalah ekspresi dari kecemasan dan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistik. Perangsang yang menimbulkan kecemasan secara berulang-ulang dipasangkan dengan keadaan relaksasi sehingga hubungan antara perangsang dengan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi.
Menurut Willis (2004: 96) desensitisasi adalah suatu teknik untuk mengurangi respon emosional yang menakutkan, mencemaskan atau tidak menyenangkan melalui aktivitas-aktivitas yang bertentangan dengan respon yang menakutkan itu. 

2. Tujuan Teknik Desensitisasi Sistematik

Fauzan menjelaskan tujuan teknik desensitisasi sistematik adalah:
a.       Teknik desensitisasi sistematik bertujuan mengajarkan konseli untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami konseling.
b.      Mengurangi sensitifitas emosional yang berkaitan dengan kecemasan, kelainan pribadi atau masalah sosial.
Menurut Willis (2004: 71) teknik desensitisasi sistematik bertujuan mengajarkan konseli untuk memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami konseli. Teknik ini mengajarkan konseli untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman yang  mencemaskan, menggusarkan atau mengecewakan. Situasi yang dihadirkan  disusun secara sistematis dari yang kurang mencemaskan hingga yang paling  mencemaskan.
3. Manfaat Teknik Desensitisasi Sitematik

Menurut Fauzan desensitisasi sistematik merupakan teknik yang digunakan untuk melemahkan respon terhadap stimulus yang tidak menyenangkan dan mengenalkan stimulus yang berlawanan (menyenangkan). Dengan pengkondisian klasik, respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Adapun manfaat dari teknik desensitisasi sistematik antara lain:
a.         Desensitisasi sistematik sering digunakan untuk mengurangi maladaptasi   kecemasan yang dipelajari melalui conditioning (seperti: phobia ) tetapi juga  dapat diterapkan pada masalah lain, misalnya kecemasan dalam menghadapi tes.
b.        Teknik desensitisasi sistematik dapat membantu konseli melemahkan atau  mengurangi perilaku negatifnya tanpa menghilangkannya.
c.         Konseli juga dapat mengaplikasikan teknik ini dalam kehidupan sehari-hari  tanpa harus ada konselor yang memandu





4. Prosedur Pelaksanaan Teknik Desensitisasi Sistematik  

Prosedur pelaksanaan teknik desensitisasi sistematik (Willis, 2004: 72) adalah sebagai berikut:
a.         Analisis perilaku yang menimbulkan kecemasan.
b.        Menyusun hierarki atau jenjang-jenjang situasi yang menimbulkan kecemasan  dari yang kurang hingga yang paling mencemaskan konseli.
c.         Memberi latihan rileksasi otot-otot yang dimulai dari lengan hingga otot kaki.
d.        Konseli diminta membayangkan situasi yang menyenangkannya seperti di  pantai, di tengah taman yang hijau dan lain-lain.
e.         Konseli disuruh memejamkan mata, kemudian disuruh membayangkan situasi  yang kurang mencemaskan. Bila konseli sanggup tanpa cemas atau gelisah, berarti situasi tersebut dapat diatasi konseli. Demikian seterusnya hingga ke situasi yang paling mencemaskan.
f.         Bila pada suatu situasi konseli merasa cemas dan gelisah, maka konselor memerintahkan konseli agar membayangkan situasi yang menyenangkan tadi untuk menghilangkan kecemasan yang baru terjadi.
g.        Menyusun hierarki atau jenjang kecemasan harus bersama konseli, dan konselor menuliskannya dikertas. 
Menurut Mubarok (2009: 30), terdapat empat tahap utama dalam teknik desensitisasi yaitu: pertama , konselor dan konseli mendaftar situasi apa saja yang menyebabkan konseli diserang perasaan cemas dan kemudian menyusunnya secara hirarkis mulai dari yang paling ringan (di atas) sampai yang paling berat (di bawah). Kedua , konselor melatih konseli untuk mencapai keadaan rileks/santai, hal ini dilakukan melalui prosedur khusus yang disebut rileksasi. Ketiga , konselor melatih konseli untuk membentuk respon-respon antagonistik yang dapat menghambat perasaan cemas. Ini dapat dilakukan melalui prosedur imageri yaitu melatih konseli untuk membayangkan situasi lain yang menyenangkan, pada saat konselor menyajikan situasi yang menimbulkan kecemasan. Keempat , pelaksanaan intervensi pada tahap ini konselor mula-mula mengarahkan konseli agar dapat mencapai keadaan rileks.
Setelah konseli mencapai keadaan rileks, konselor memverbalisasikan (menyajikan) secara berurutan dari atas ke bawah situasi yang menimbulkan perasaan cemas sebagaimana tersusun dalam hirarki dan meminta konseli membayangkannya. Jika konseli dapat membayangkan situasi tersebut tanpa mengalami kecemasan, konselor menyajikan situasi berikutnya dan ini terus dilakukan dengan cara yang sama sehingga seluruh situasi dalam hirarki yang telah disajikan dan kecemasan bisa dihilangkan.   
Ada tiga langkah utama dalam penggunaan desensitisasi sistematik yaitu: 
a.       Latihan rileksasi, konselor memulai dengan melatih konseli untuk santai. Latihan ini harus berlangsung dalam ruangan yang tenang, cukup pencahayaan, tidak ada kebisingan di luar ruangan.
b.      Pengembangan hirarki kecemasan, konselor merencanakan hirarki kecemasan  dengan konseli untuk setiap ketakutan yang diketahui. Hirarki ini didasarkan pada ketakutan yang telah disepakati konselor dan konseli sebagai perubahan yang diinginkan.
c.       Penggunaan desensitisasi sistematik yang tepat, dimulai dengan membiarkan konseling menenangkan diri, kemudian konselor meminta konseli untuk membayangkan tiap-tiap suasana yang jelas dan senyata mungkin sesuai dengan urutan hirarki situasi yang telah disepakati sebelumnya.
Jika konseli merasakan sedikit lebih cemas ketika membayangkan suasana tertentu, maka konseli akan memberitahu signal dengan jari tangan dan konselor langsung meminta konseli untuk rileks dan membayangkan suasana yang menyenangkan. Jika konseli dapat melewati situasi kecemasan tanpa merasa cemas maka konselor meminta konseli membayangkan situasi kecemasan yang berikutnya sampai situasi yang paling mencemaskan.    

B. Konsep Kecemasan

1. Pengertian Kecemasan

Setiap orang tentu pernah mengalami perasaan cemas. Perasaan cemas yang dialami oleh masing-masing orang berbeda-beda, ada yang tinggi, sedang, atau rendah, dan bagaimana orang menyikapi hadirnya perasaan cemas.   Di dalam kamus psikologi, Sitanggang (1994: 23) menyebutkan bahwa anxiety (kecemasan) merupakan ketakutan yang samar-samar dan yang tidak jelas terarah pada suatu realisasi obyektif yang didapat karena pengalaman atau melalui generalisasi rangsangan; seringkali terjadi sebagai akibat frustrasi/kekecewaan. Hal ini merupakan ciri dari berbagai gangguan syaraf dan mental.  
Menurut Hawari , “kecemasan adalah gangguan alam perasaan (affective ) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan”. Secara klinis gejala kecemasan dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu: gangguan cemas ( anxiety disorder ), gangguan cemas menyeluruh ( generalized anxiety disorder/ GAD ), gangguan panik ( panic disorder ), gangguan phobik ( phobic disorder ) dan gangguan obsesif-kompulsif (obsessive compulsive disorder ). Tidak setiap orang mengalami stressor psikososial akan menderita gangguan cemas, hal ini tergantung pada struktur kepribadiannya. Individu dengan kepribadian pencemas lebih rentan ( vulnerable ) untuk menderita gangguan cemas daripada individu yang tidak berkepribadian  pencemas. 
Arkoff, menjelaskan kecemasan adalah anxiety as a state of arousal caused by threat to well-being . Jadi, kecemasan adalah suatu keadaan yang menggoncangkan karena adanya ancaman terhadap kesehatan. Sudrajat (2009) menjelaskan bahwa kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas.   
Daswia (2006: 23) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan suatu keadaan pada diri individu dalam menghadapi situasi yang dirasakan mengancam
tanpa adanya objek yang jelas dan keadaan ini mengarahkan individu untuk  mencoba mengatasi keadaan yang tidak menyenangkan tersebut.
Berdasarkan beberapa pengertian kecemasan menurut pendapat para ahli
maka dapat disimpulkan bahwa kecemasan merupakan salah satu bentuk emosi
yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran dalam menghadapi
situasi yang dirasakan mengancam tanpa adanya objek yang jelas.





2. Teori Kecemasan
Ada beberapa teori yang memberikan kontribusi terhadap kemungkinan  faktor etiologi dalam pengembangan kecemasan. Teori-teori tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut: 
a. Teori Psikodinamik
Freud (1993) mengungkapkan bahwa kecemasan merupakan hasil dari  konflik psikis yang tidak disadari. Kecemasan menjadi tanda terhadap ego untuk  mengambil aksi penurunan cemas. Ketika mekanisme pertahanan diri berhasil, kecemasan menurun dan rasa aman datang kembali. Namun, apabila konflik terus berkepanjangan, maka kecemasan ada pada tingkat tinggi. Mekanisme pertahanan diri dialami sebagai simptom, seperti phobia , regresi dan tingkah laku ritualistik.
Konsep psikodinamik menurut Freud juga menerangkan bahwa kecemasan pertama kali timbul dalam hidup manusia adalah pada saat lahir dan merasakan lapar yang pertama kali. Saat itu dalam kondisi masih lemah dan belum mampu memberikan respon terhadap kedinginan dan kelaparan, maka lahirlah kecemasan pertama. Kecemasan berikutnya muncul apabila ada suatu keinginan dari Id untuk menuntut pelepasan dari ego, tetapi tidak mendapat restu dari super ego, maka terjadilah konflik dalam ego, antara keinginan Id yang ingin pelepasan dan sangsi dari super ego lahirlah kecemasan yang kedua. Konflik-konflik tersebut ditekan dalam alam bawah sadar dengan potensi yang tetap tak terpengaruh oleh waktu, sering tidak realistik dan dibesar-besarkan. Tekanan ini akan muncul ke permukaan melalui tiga peristiwa, yaitu: sensor super ego menurun, desakan Id meningkat dan adanya stress psikososial, maka lahirlah kecemasan-kecemasan berikutnya.
b. Teori Perilaku
Menurut teori perilaku, Kecemasan berasal dari suatu respon terhadap stimulus khusus (fakta), waktu yang cukup lama, seseorang mengembangkan respon kondisi untuk stimulus yang penting. Kecemasan tersebut merupakan hasilfrustasi, sehingga akan mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang di inginkan.
c. Teori Interpersonal
Menjelaskan bahwa kecemasan terjadi dari ketakutan akan penolakan antar individu, sehingga menyebabkan individu bersangkutan merasa tidak berharga.
d. Teori Keluarga
Menjelaskan bahwa kecemasan dapat terjadi dan timbul secara nyata  akibat adanya konflik dalam keluarga.
e. Teori Biologik
Beberapa kasus kecemasan (5-42%) merupakan suatu perhatian terhadap proses fisiologis (Hall, 1980). Kecemasan ini dapat disebabkan oleh penyakit fisik atau keabnormalan, tidak oleh konflik emosional. Kecemasan ini termasuk kecemasan sekunder.




3. Macam-macam Kecemasan
Freud, mengklasifikasikan kecemasan ke dalam tiga hal yaitu:
a.       Kecemasan realistik, merupakan respon terhadap ancaman dari dunia luar atau  perasaan takut terhadap bahaya-bahaya yang nyata (real ) yang berada di  lingkungan. Contoh: seorang siswa menjadi cemas ketika menghadapi ujian. 
b.      Kecemasan neurotis, merupakan respon terhadap letusan yang mengancam  dari dorongan Id ke dalam kesadaran. Kecemasan ini berkembang berdasarkan  pengalaman masa anak-anak yang terkait dengan hukuman atau ancaman dari orang tua. Ketika seseorang mengalami kecemasan neurotik, orang tersebut merasa takut akan hukuman yang maya (hayalan) dari orang tua atau orang lain yang mempunyai otoritas secara maya pula untuk memuaskan dorongan instinknya.  
c.       Kecemasan moral, merupakan respon super ego terhadap dorongan Id yang  mengancam untuk memperoleh kepuasan secara “immoral”. Kecemasan ini  diwujudkan dalam bentuk perasaan bersalah (guitly feeling ) atau rasa malu  (shame ). Seseorang yang mengalami kecemasan ini, merasa takut akan  dihukum oleh super egonya atau kata hatinya.
Sundari, membagi macam-macam kecemasan menjadi tiga,  yaitu:  
a.       Kecemasan karena merasa berdosa atau bersalah. Misalnya seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya atau keyakinannya, seperti seorang pelajar menyontek pada waktu pengawas ujian lewat didepannya berkeringat dingin, takut diketahui.
b.      Kecemasan akibat melihat dan mengetahui bahaya yang mengancam dirinya. Misalnya kendaraan yang dinaiki remnya macet, sehingga menjadi cemas kalau terjadi tabrakan beruntun dan ia sebagai penyebabnya.
c.       Kecemasan dalam bentuk yang kurang jelas, apa yang ditakuti tidak seimbang, bahkan yang ditakuti itu hal atau benda yang tidak berbahaya. Rasa takut sebenarnya sesuatu yang biasa atau wajar kalau ada sesuatu yang ditakuti dan seimbang. Bila takut yang sangat luar biasa dan tidak sesuai terhadap objek yang ditakuti sebenarnya patologis yang disebut phobia . Phobia adalah rasa takut yang sangat atau berlebihan terhadap sesuatu yang tidak diketahui penyababnya.
Sedangkan, Spielberger membedakan kecemasan atas dua bagian yaitu: kecemasan sebagai suatu sifat (trait anxiety ), yaitu kecenderungan pada diri seseorang untuk merasa terancam oleh sejumlah kondisiyang sebenarnya tidak berbahaya, dan kecemasan sebagai suatu keadaan (state anxiety ), yaitu suatu keadaan atau kondisi emosional sementara pada diri seseorang yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran yang dihayati secara sadar serta bersifat subyektif dan meningginya sistem syaraf otonom. Sebagai suatu keadaan, kecemasan biasanya berhubungan dengan situasi-situasi lingkungan yang khusus, misalnya situasi tes.




4. Gejala-gejala Kecemasan

Menurut Sundari, ada beberapa gejala kecemasan yang bersifat fisik, yaitu jari-jari tangan dingin, detak jantung makin cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, nafsu makan berkurang, tidur tidak nyenyak, dan dada sesak nafas.
Sedangkan gejala yang bersifat psikis, yaitu ketakutan, merasa akan ditimpa bahaya, tidak dapat memusatkan perhatian, tidak tentram, ingin lari dari kenyataan. 
Yusuf menjelaskan bahwa gejala kecemasan ini nampak pada perubahan fisik, seperti gangguan pernafasan, detak jantung yang meningkat, berkeringat, dan lain-lain. 
Menurut Hawari (2006: 68-70) kecemasan yang menyeluruh dan menetap paling sedikit berlangsung selama 1 bulan dengan kategori gejala sebagai berikut:
a. Ketegangan motorik/alat gerak:
a) gemetar,
b) tegang,
c) nyeri otot,
d) letih,
e) tidak dapat santai,
f) kening berkerut,
g) muka tegang,


h) gelisah, 
i) tidak dapat diam, dan
j) mudah kaget.
b. Hiperaktivitas syaraf autonom (simpatis/parasimpatis):
a) berkeringat berlebihan,
b) jantung berdebar-debar,
c) rasa dingin, 
d) telapak tangan/kaki basah,
e) mulut kering,
f) pusing,
g) kepala terasa ringan,
h) kesemutan,
i) rasa mual,
j) rasa aliran panas atau dingin,
k) sering buang air seni,
l) diare,
m) rasa tidak enak diulu hati,
n) kerongkongan tersumbat,
o) muka merah atau pucat, dan
p) denyut nadi dan nafas yang cepat waktu istirahat.


c. Rasa khawatir berlebihan tentang hal-hal yang akan datang  ( apprehensive expectation ): 
a) cemas, khawatir, takut,
b) berpikir berulang ( rumination ), dan
c) membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya atau orang lain.
d. Kewaspadaan berlebihan:
a) mengamati lingkungan secara berlebihan sehingga mengakibatkan  perhatian mudah teralih,
b) sukar berkonsentrasi,
c) sukar tidur,
d) merasa ngeri,
e) mudah tersinggung, dan
f) tidak sabar.
Gejala-gejala tersebut di atas baik yang bersifat psikis maupun fisik (somatik) pada setiap orang tidak sama, dalam arti tidak seluruhnya gejala itu harus ada.
Sedangkan Nuly,  menjelaskan bahwa ada empat  tanda-tanda atau gejala umum dari kecemasan yaitu:
a.       Terhadap emosi: pelupa, gugup, khawatir, susah tidur.
b.      Terhadap jantung dan pernafasan: jantung berdebar-debar, tangan dingin,
c.       berkeringat, sakit kepala, sesak nafas, dan sebagainya.
d.      Terhadap otot-otot: tangan bergetar, punggung terasa pegal, tegang, kaku, dan
e.       sebagainya.
f.       Terhadap lambung dan usus: perut terasa tidak enak, susah buang air besar dan diare.
 
5. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan
Grainger menjelaskan bahwa individu membuat keputusan terhadap kecemasan yang dirasakannya berdasarkan dua kelompok faktor, yaitu:
a.       Faktor lingkungan, antara lain: tuntutan terhadap diri kita di rumah, di tempat
b.      kerja/ di sekolah, dan dari kehidupan pribadi.
c.       Faktor individu, antara lain: ciri kepribadian, sikap, usia, tingkatan sosial.
Faktor penyebab kecemasan menurut Sigmund Freud,yaitu:
a.       Id (rangsangan naluri yang menuntut pemuasan segera) muncul sebagai suatu rangsangan yang mendorong ego untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat diterima lingkungan. Freud menyebutnya sebagai neurotic anxiety .
b.      Ego (bagian dari kepribadian manusia yang memberi kesadaran akan adanya dunia di luar dirinya, dan kemungkinan untuk berorientasi pada realita)menyadari akan adanya hal yang mengkhawatirkan. Inilah yang menyebabkan realistic anxiety menurut Freud.
c.       Super Ego (kesadaran moral akan apa yang baik dan jahat) menjadi begitu kuat sehingga menimbulkan perasaan bersalah dan rasa malu, yang disebut moral anxiety oleh Freud.



6. Tingkatan Kecemasan
Ada empat tingkat kecemasan menurut Townsend, yaitu: 
a.       Kecemasan ringan. Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam  kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan  meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, lapang persepsi meningkat, kesadaran tinggi, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai situasi.
b.      Kecemasan sedang. Memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif, namun dapat melakukan sesuatu yang terarah. Manifestasi yang terjadi pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, kecepatan denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, lahan persepsi menyempit, mampu untuk belajar namun tidak optimal, kemampuan konsentrasi menurun, perhatian selektif dan terfokus pada rangsangan yang tidak menambah ansietas, mudah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis.
c.       Kecemasan berat. Sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang dengan kecemasan berat cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik, serta tidak dapat berpikir tentang hal lain. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area yang lain. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, lahan persepsi menyempit, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri dan keinginan untuk menghilangkan kecemasan tinggi, perasaan tidak berdaya, bingung, disorientasi.
d.      Panik. Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan dan teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernapas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi.
Fobia adalah sebuah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal ataupun fenomena yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, yang mengalami hal tersebut sering dijadikan bahan ledekan oleh teman-teman sekitarnya. Demikian kurang lebih dari pengertian fobia itu sendiri.Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat phobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap / penderita fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Itulah fenomena dari phobia ini.
Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek phobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrem seperti trauma bom, terjebak lift dan sebagainya. Dan fobia ini juga mempunyai jenisnya sendiri-sendiri. Untuk jenis fobia akan diterangkan di bagian selanjutnya.
Seseorang yang pertumbuhan mentalnya mengalami fiksasi akan memiliki kesulitan emosi (mental blocks) dikemudian harinya. Hal tersebut dikarenakan orang tersebut tidak memiliki saluran pelepasan emosi (katarsis) yang tepat. Setiap kali orang tersebut berinteraksi dengan sumber Fobia secara otomatis akan merasa cemas dan agar "nyaman" maka cara yang paling mudah dan cepat adalah dengan cara "mundur kembali"/regresi kepada keadaan fiksasi.
Kecemasan yang tidak diatasi seawal mungkin berpotensi menimbulkan akumulasi emosi negatif yang secara terus menerus ditekan kembali ke bawah sadar (represi). Pola respon negatif tersebut dapat berkembang terhadap subjek subjek phobia lainnya dan intensitasnya semakin meningkat. Walaupun terlihat sepele, “pola” respon tersebut akan dipakai terus menerus untuk merespon masalah lainnya. Itu sebabnya seseorang penderita fobia menjadi semakin rentan dan semakin tidak produktif. Phobia merupakan salah satu dari jenis jenis hambatan sukses lainnya.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Teknik desensitisasi sistematik merupakan salah satu teknik perubahan prilaku yang didasari oleh pendekatan konseling behavioral
2.      Kecemasan merupakan hasil konflik psikis yang tidak disadari
3.      Fobia adalah sebuah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal ataupun fenomena yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari