Pages

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Konseling dan Terapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Konseling dan Terapi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 September 2015

KONSELING DAN PSIKOTERAPI




                Terapi diambil dari kata Yunani therapeia yang berarti menyembuhkan. Secara harfiah psikoterapi berarti menyembuhkan pikiran atau jiwa. Saat ini, hampir secara umum arti psikoterapi diperluas menjadi menyembuhkan pikiran melalui metode-metode psikologis yang diterapkan oleh praktisi yang terlatih dan bersertifikat. Ada berbagai macam tujuan terapi, antara lain menangani gangguan mental berat, mengatasi kecemasan dan fobia tertentu, dan membantu orang menemukan makna dan tujuan dalam kehidupannya.
Apakah konseling berbeda dengan psikoterapi ? upaya untuk membedakan antara konseling dan psikoterapi tidak pernah berhasil sepenuhnya. Namun demikian, sebagian orang seperti Corsini (2005) mencoba membedakan konseling dengan psikoterapi. Misalnya, psikoterapis mungkin lebih terlatih secara menyeluruh;  psikoterapis mungkin lebih memusatkan diri secara mendalam pada cara pengungkapan berbagai pengaruh ketidaksadaran dan memiliki jangka waktu yang lebih lama; mungkin juga psikoterapi lebih diwarnai istilah medis yang menjadi ciri pekerjaan psikiater dan psikiatris klinis, sementara itu konseling lebih berkaitan dengan kegiatan-kegiatan berlingkup nonmedis, misalnya di pusat konseling perguruan tinggi.
TIGA MAZHAB KONSELING DAN TERAPI
Mazhab Psikodinamik, istilah psikodinamik mengacu pada pemindahan energi psikis atau mental pada berbagai struktur dan tingkatan kesadran yang berbeda dalam pikiran seseorang. Berbagai pendekatan psikodinamik menekankan pentingnya fungsi ketidaksadaran. Terapi dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan klien dalam menerapkan kontrol sadar yang lebih besar pada kehidupannya. Analisis atau interprestasi mimpi menjadi bagian sentral terapi ini.
Mazhab Humanistik, mazhab humanistik didasarkan pada pandangan humanisme, yakni sebuah sistem nilai dan kepercayaan yang menekankan kualitas dan kemampuan manusia yang lebih baik untuk mengembangkan potensi manusiawi-nya. Terapis humanistik menekankan pada penguatan kemampuan klien untuk mengalami perasaanya dan berpikir serta bertindak selaras dengan kecenderungan yang mendasari perilakunya untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu yang unik. Pendekan terapi humanistik-eksistensial menekankan pada kemampuan seseorang untuk memilih bagaimana cara mengaktualisasikan eksistensinya.
Mazhab Kognitif-Behavioral, jika terapi perilaku tradisional terutama berfokus pada pengubahan perilaku yang dapat diobservasi dengan cara memberikan konsekuensinya (bisa hukuman atau hadiah), maka mazhab kognitif-behavioral memperluasnya dengan memasukkan kontribusi dari suasana hati, pikiran, dan kreativitas klien itu dalam mengatasi masalahnya. Dapat dikatakan pula bahwa dalam mazhab kognitif-behavioral, terapis memberikan akses pada klien dan setelah itu mengintervensinya untuk membantu mengubah cara berpikir dan berperilaku tertentu yang menjadi masalahnya.

IKHTISAR PENDEKATAN-PENDEKATAN KONSELING DAN  TERAPI
Mazhab Psikodinamik
Psikoanalis klasik, penemu: Sigmund Freud (1856-1939)
Berfokus pada faktor-faktor tak-sadar yang berkaitan dengan seksualitas kekanak-kanakan yang berkembang secara neurotik. Psikoanalis yang berpengaruh selama bertahun-tahun ini menekankan pengalihan peran, di mana klien memersepsi terapis sebagai reinkarnasi figur penting dari masa kanak-kanaknya, ditambah dengan interpretasi mimpi.
Terapi analitik, penemu: Carl Jung (1875-1961)
Membagi dua ketidaksadaran, yakni ketidaksadaran personal dan ketidaksadaran kolektif. Yang kedua merupakan gudang penyimpanan prototipe-prototipe universal dan gambaran-gambaran primordial. Terapi mencakup analisis pengalihan peran, imajinasi aktif, dan analisis mimpi. Jung sangat tertarik untuk menangani klien-klien di paruh kedua dikehidupan mereka.
Mazhab humanistik-eksistensial
Person-centered therapy, penemu: Carl Rogers (1902-1987)
Memberikan penekanan besar pada asal usul pengalaman subjektif dan sebab-sebab klien menjadi tidak tersentuh dengan pengalaman realistik. Alih-alih mereka malah memproyeksikan evaluasi orang lain dan memperlakukannya seolah-olah evaluasinya sendiri. Terapi menekankan pada hubungan yang ditandai oleh empati, respek, dan kehangatan nonposesif yang akurat.
Terapi gestalt, penemu: Fritz Perls (1893-1970)
Individu menjadi neurotik karena kehilangan sentuhan indrawi, dan terjadi gan1gguan yang kuat untuk melakukan kontak dengan lingkungannya. Terapi menekankan pada meningkatkan  kesadaran dan vitalitas klien melalui teknik-teknik kesadaran, eksperimen, simpati, dan latihan menangani frustasi. Begitu juga analisis mimpi (tafsir mimpi).
Analisis transaksional, penemu: Eric Berne (1910-1970)
Transaksi yang terjadi pada diri seseorang di antara keadaan ego orangtua, dewasa dan anak-anak. Terapi mencakup analisis struktur keadaan ego, analisis transaksi khusus, analisis permainan—berbagai transaksi yang memiliki motivasi tersembunyi—dan analisis skrip kehidupan (life-script) klien.
Terapi realitas, penemu: William Glasser (1925)
Klien memilih untuk mempertahankan kesengsaraannya melalui pilihan yang tidak semestinya, dengan cara mengontrol dunia untuk memuaskan kebutuhannya. Terapi dilakukan untuk mengidentifikasikan kebutuhan dan keinginan klien, mengajarkan pilihan teori, merencanakan, dan bilamana perlu untuk melatih berbagai perilaku yang dibutuhkan klien agar berhasil.
Terapi eksistensial, penemu: Irvan Yalom (1931) dan Rollo May (1909-1994)
Didasarkan pada karya para filsuf eksistensial dan fokus pada bantuan agar klien mampu mengatasi berbagai kecemasan yang berhubungan dengan empat perhatian utama eksistensi manusia:  kematian, kebebasan, isolasi, dan tanpa-kebermaknaan. Terapi difokuskan pada situasi klien saat ini, dengan berbagai perbedaan campur tangan yang digunakan menurut hakikat ketakutan yang mneyelubungi klien.
Logoterapi, penemu: Viktor Frankl (1905-1997)
Klien menjadi neurotik karena menghadapi kevakuman eksistensial, dilanda ketidakmampuan menemukan makna dalam kehidupannya. Logoterapis menggunakan berbagai metode, antara lain mengajarkan pentingnya memikul tanggung jawab untuk menemukan makna, mengajukan pertanyaan langsung, menyodorkan berbagai pilihan makna, dan menganalisis mimpi.
Mazhab Kognitif-Behavioral
Terapi behavioral (perilaku), tokoh-tokoh penting: teori, Ivan Pavlov (1949-1936)dan B.F. Skinner (1904-1990); praktik, Joseph Wolpe (1915-1997)
Menekankan pembelajaran perilaku melalui pengondisian fisik, pengondisian operant, dan modelling. Terapi terdiri atas belajar perilaku adaptif melalui berbagai metode, seperti desensitisasi sistematik, program-program penguatan, dan latihan/pengulang-ulangan perilaku.
Rational emotive behavioral therapy, penemu: Albert Ellis (1913)
Menekankan pada klien-klien yang mereindoktrinasi dirinya dengan keyakinan irasional yang memberikan kontribusi pada perasaan-perasaan yang tidak diinginkan dan tindakan-tindakan yang self-defeating (penggalan diri). Terapi melibatkan penentangan keyakinan irasional klien dan menggantinya dengan keyakinan yang lebih rasional. Terapi yang elegan atau mendalam termasuk mengubah falsafah hidup klien.
Terapi kognitif, penemu: Aaron Beck (1921)
Klien mejadi distress (mengalami hendaya) karena telah memproses informasi yang keliru denag kecenderungan untuk melompat ke kesimpulan –kesimpulan yang tidak beralasan. Terapi diberikan dengan cara mendidik klien mengenai cara menguji realitas pemikiran mereka melalui berbagai intervensi, antara lain melontarkan pertanyaan langsung dan melaksanakan eksperimen dan kehidupan nyata.
Terapi multimodal, penemu (Arnold Lazarus (1932)
Klien merespon situasi menurut berbagai modalitas yang dominan, yang meliputi perilaku, emosi, sensasi, penggambaran, kognisi, interpersonal, dan berbagai obat-obatan. Berdasarkan asesmen multimodal, terapisnya secara teknis bersifat eklektik, dengan menggunakan berbagai teknik yang dipilih berdasarkan bukti-bukti empirik dan kebutuhan klien.

ASAL MUASAL BERBAGAI PENDEKATAN KONSELING DAN TERAPI



                Semangat kemanusiaan mendasari penciptaan berbagai pendekatan teoritik konseling dan terapi. Sampai pada tingkat yang cukup jauh, teori-teori ini merefleksikan konteks historis kehidupan personal dan intelektual para pendirinya. Di samping itu, dipengaruhi oleh para penulis sebelumnya , para teoritisi tersebut teruatam dipengaruhi oleh keluarga asalnya. Beberapa faktor penting yang memengaruhi penciptaan dan perkembangan teori dan praktik konseling dan terapi.
Konteks Sejarah dan Budaya
                Pendekatan-pendekatan teoritik tidak dierami dan menetas dalam ruang vakum. Para teoritis ini dipengaruhi oleh konteks historis dan kultur hidup mereka. Misalnya, prevalensi represi seksual di Austria pada masa peralihan abad, telah memengaruhi Freud untuk mengembangkan sebuah teori yang menempatkan seksualitas memainkan peran besar. Contoh lainnya adalah, selama paruh pertama abad kedua puluh, orangtua cenderung lebih mendominasi keluarganya dibanding sekarang. Carl rogers (1961,1980) dibesarkan pada triwulan pertama abad itu.
Para Teoritis yang Terluka
                Asal muasal terapi perilaku lebih banyak terdapat dalam laboratorium hewan daripada dalam pengalaman personal para teoritis perilaku. Akan tertapi tanpa kecuali, semua teoritis lain yang karyanya dideskripsikan dalam tulisan ini, menghadapi periode-periode penderitaan psikologis yang signifikan dalam hidupnya. Observasi Jung bahwa “Only the wounded physician heals” (“hanya dokter yang terluka yang mampu menyembuhkannya”). Dapat diubah menjadi “only the wounded healer creates a counseling and therapy approach”  (“hanya peneyembuh yang terluka yang mampu menciptakan pendekatan konseling dan terapi”).
Para Teoritis yang Terluka
·         Sigmund Freud (psikoanalisis) selama bertahun-tahun menderita depresi periodik, suasana perasaan yang bervariasi secara ekstrem, serangan kecemasan yang tidak wajar, dan terkadang juga mengalami gangguan rasa takut mati, terserang pingsan dadakan, dan fobia berkendara kereta api.
·         Carl Jung (terapi analitik)  pada suatu tahap kehidupannya merupakan anak penyendiri, pada tahap perkembangan tertentu memanfaatkan serangan pingsan dadakan agar tidak harus masuk sekolah menengah. Pada usia akhir 30-an dan awal 40-an, Jung mengalami gejala-gejala yang mirip skizofrenia.
·         Carl Rogers (person-centered therapy)  pada masa kanak-kanaknya merupakan anak yang sangat pemalu dan penyendiri, tumbuh bersama anggapannya tentang orangtua yang ahli dalam memanipulasi emosi, namun tidak kentara. Rogers sering merasa tidak aman mengungkapkan terlalu banyak perasaan pribandinya, karena takut dinilai negatif.
·          Fritz Perls (terapi Gestalt) tumbuh dalam keluarga yang mengalami hendaya (distres),  orangtua banyak bertengkar baik secar lisan maupun fisik. Ibunya kerap memukulinya dengan alat pemukul yang digunakan untuk menghilangkan debu di karpet dan ia membenci ayahnya yang menyombongkan kebajikan.
·         Eric Berne (analisis transaksional) ketika berumur 11 tahun, ayahnya yang seorang dokter  dan dikasihinya meninggal karena TBC, meninggalkan ibunya untuk membesarkan dirinya dan saudara perempuannya.
·         William Glasser (terapi realitas) pada umur 4 tahun ia menyadari bahwa kedua orangtuanya sangatlah tidak cocok. Ayahnya adalah seorang yang lembut dan nonposesif, sementara itu ibunya sangat enerjik, bahkan dikhayalkannya kalau ada even pertandingan olimpiade tentu akan meraih medali emas. Grasser sangat pemalu selama menjadi mahasiswa S1 dan boleh jadi juga pada usia sebelumnya.
·         Irvin Yolom dan Rollo May (terapi eksistensial) Yolom tumbuh bersamaan dengan kebencian terhadap ibunya yang kerap kali berkata menyakitkan. May dibesarkan dalam atmosfer keluarga yang tidak serasi dan tidak bahagia. Ia menggambarkan ibunya sebagai “gembong kucing-anjing betina”
·         Viktor Frankl (logo terapi) ketika masih muda, Frankl merupakan laki-laki putus asa tanpa kehidupan yang berarti. Setelah itu ia mengalami horor kamp konsentrasi Nazi Jerman dan pemusnahan anggota keluarga.
·         Albert Ellis (rational emotive behavior therapy) ketika usia kanak-kanak dan remaja, Ellis adalah anak yang sakit-sakitan, pemalu, dan tertutup. Ibunya selalu suka ikut campur, tetapi menelantarkannya. Ayahnya pun menghilang tidak ketahuan rimbanya. Tiba-tiba pada usia 12 tahun, Ellis menemukan orangtuanya telah bercerai.
·         Aaron Beck (terapi kognitif) ibunya mengalami depresi mendalam secara periodik, pemurung dan tidak konsisten. Selama dalam usia pertumbuhan, Beck terlanda kecemasan dan ketakutan mendalam pada operasi, bicara di depan umum dan ketinggian.
·         Arnold Lazarus (terapi multimodal) Lazarus adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan tumbuh dengan perasaan terabaikan dan merasa tidak dihargai di rumah. Perasaan ini berkontribusi secara signifikan terhadap suburnya perasaan malu, kurang memadai, dan hipersensitif. Masa kecil Lazarus kurus kering dan kerap kali menjadi korabn bullying (gertakan).

Jika banyak pihak beranggapan bahwa para penemu teori konseling dan terapi mengalami penderitaan psikologis, pertanyaannya ialah:  bagaimana hali itu berpengaruh terhadap teori-teori mereka ? Bagi sebagian teoritis terkemuka, malu bertatap muka dengan orang-orang mungkin telah menstimulasi keinginan untuk berkomunikasi melalui kata-kata secara tertulis. Di samping itu, setelah mengalami sendiri berbagai penderitaan, teoritis mungkin termotivasi untuk mengembangkan teori yang dapat mengurangi penderitaan orang lain.

TEORI KONSELING DAN TERAPI



                Teori adalah formulasi prinsip-prinsip yang mendasari fenomena terobservasi tertentu yang sampai tingkat tertentu telah diverifikasi. Salah satu kriteria keandalan sebuah teori adalah seberapa jauh ia menghasilkan prediksi-prediksi yang dikonfirmasi ketika data empirik yang relevan dikumpulkan. Semakin banyak sebuah terapi menerima konfirmasi atau verifikasi, semakin akurat pula teori itu. Fakta itu bukan untuk mengganti teori melainkan untuk memperkuat teori itu. Tiga fungsi utama teori konseling dan terapi adalah: memberikan kerangka kerja konseptual, menyediakan bahasa, dan menghasilkan penelitian.
Teori sebagai Kerangka Kerja Konseptual, terapis adalah pengambil keputusan. Mereka terus membuat pilihan tentang cara memandang perilaku klien, memperlakukan mereka, dan merespons dari waktu ke waktu selama sesi terapi. Teori memberikan konsep-konsep kepada terapis sehingga memungkinkan mereka untuk memikirkan secara sistematik tentang perkembangan manusia dan proses terapeutiknya. Pendekatan teoritik konseling dan terapi dapat dianggap memiliki empat dimensi utama jika ingin dinyatakan secara adekuat. Dalam konteks ini yang dimaksud perilaku termasuk perilaku yang dapat diobservasi maupun perilaku pemikiran internal. Dimensi-dimensi itu meliputi:
·         Pernyataan tentang konsep-konsep dasar atau asumsi-asumsi yang mendasari teori tersebut
·         Penjelasan tentang dipeolehnya perilaku yang membantu dan tidak membantu
·         Penjelasan tentang terpeliharanya perilaku yang membantu dan tidak membantu, dan
·         Penjelasan tentang cara membantu klien mengubah perilakunya dan mengonsolidasikan hal-hal yang telah berhasil dicapainya ketika terapi berakhir.

Teori sebagai Bahasa, psikiater Swiss Carl Jung (1961) biasa menekankan bahwa, karean semua klien adalah individu-individu yang berbeda, terapis membutuhkan bahasa yang berbeda untuk setiap klien. Bahasa dalah kosakata dan simbol-simbol linguistik yang memungkinkan komunikasi tentang fenomena. Seperti halnya bahasa-bahasa lisan utama—Bahasa Inggris—Bahasa Spanyol dan bahasa Cina—para teoritis mengembangkan berbagai bahasa untuk fenomena yang ingin mereka deskripsikan, misalnya, bahasa kognitif, psikoanalitik, atau person-centered. Bahasa dapat mempersatukan maupun memecah belah. Bahasa dapat mendorong komunikasi di antara orang-orang yang menggunakan bahasa yang sama, tetapi membtasi komunikasi jika mereka tidak menggunakan bahasa yang sama. Setiap posisi teoretik memiliki konsep-konsep yang dideskripsikan dalam bahasa yang unik. Akan tetapi, keunikan bahasa dapat menutupi elemen-elemen yang sama di antara teori-teori, misalnya, makna conditions of worth dalam person-centered therapy tumpang tindih dengan makna kondisi-kondisi superego dalam terapi psikoanalitik Freud.
 Teori sebagai Seperangkat Hipotesis Penelitian, teori bisa saja didasarkan pada penelitian dan juga dapat menstimulasi penelitian, misalnya, terapi kognitif-behavioral didasarkan pada penelitian tentang bagaimana orang berpikir dan bagaimana orang dan hewan berperilaku. Selain itu, pendekatan-pendekatan kognitif behavioral, seperti rational emotive behavioral therapy dan terapi kognitif, telah menstimulasi penelitian tentang berbagai proses dan hasilnya.teori juga memberikan kerangka kerja kepada terapis untuk membuat hipotesis-hipotesis dan prediksi selama praktik terapi mereka. Diakui atau tidak, semua terapis adalah praktisi teliti. Terapis membuat hipotesis tiap kali mereka memutuskan tentang cara menangani klien tertentu dan cara merespons ucapan atau rangkaian ucapan klien.
Keterbatasan Teori-teori Konseling dan Terapi
                Semua teori konseling dan terapi harus mampu memberikan informasi kesehatan psikologis yang ekuivalen. Hal itu agar dapat digunakan untuk dapat memperbaiki keadaan klien. Banyak teori yang sebenarnya hanya menyodorkan kebenaran parsial, yang dianggap sebagai kebenaran utuh. Misalnya, Rogers (1951, 1959) mengusulkan sebuah diagnosis tunggal untuk semua masalah klien, yaitu bahwa  ada ketidaksamaan antara struktur diri dan pengalaman, dan melihat enam kondisi hubungan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dan dianggap mencukupi untuk semua kasus. Ellis memfokuskan keyakinan-keyakinan irasioanl sebagai akibat dari kurang adanya perhatian kepada aspek=aspek berpikir lainnya, misalnya membuat persepsi secara pasti atau menggunakan copy self-talk. Freud menekankan pada pengungkapan materi tak sadar melaui analisis mimpi, tetapi tidak banyak berbicara tentang  pengembangan perilaku-perilaku efektif tertentu untuk mengatasi masalah sehari-hari. Beberapa teori bisa saja menyebabkan terjadinya fokus perhatian yang kurang lebih keliru tentang klien. Bahkan dapat membuat masalah klien menjadi lebih berat dari kenyataan sebelumnya. Bahasa yang berbeda pada pendekatan-pendekatan teoritik dapat menyamarkan persamaan yang ada diantara mereka. Kekakuan teoritik juga didukung adanya perbedaan bahasa yang mebuat terapis lebih banyak berbicara dengan mereka yang berbicara dengan bahasa yang sama daripada berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam arti yang lebih luas. Bahasa teori juga dapat menciptakan ketidakseimbangan kedudukan antara terapis dan klien. Semua teoritis juga kurang memiliki perhatian terhadap perbedaan budaya. Selain itu, para teoritis tersebut bisa saja mengabaikan atau kurang menganggap penting kontribusi kondisi lingkungan, seperti kemiskinan, perumahan yang buruk, dan diskriminasi rasial, dalam menjelaskan perilaku yang tidak efektif.  

Jumat, 29 Maret 2013

KONSEP DASAR KONSELING



KONSEP DASAR KONSELING
A.     DEFENISI KONSELING
Defenisi konseling dapat dikelompokkan jadi dua, yaitu defenisi konvensional dan defenisi modern. Defenisi konseling konvensional lebih bercirikan bahwa pelayanan konseling tidak menggunakan tekhnologi informatika, sedangkan defenisi konseling modern bercirikan suatu pelayanan konseling menggunakan tekhnologi informatika.
1.      Defenisi Konseling Konvensional
Secara konvensional, konseling didefenisikan sebagai pelayanan professional (professional service) yang diberikan oleh konselor kepada konseli  secara tatap muka (face to face), agar konseli dapat mengembangkan perilakunya kearah lebih maju (progressive). Pelayanan konseling berfungsi kuratif (curative) dalam arti penyembuhan. Dalam hal ini konseli adalah individu yang mengalami masalah, dan setelah memperoleh pelayanan konseling ia diharapkan secara bertahap dapat memahami masalahnya (problem understanding) dan memecahkan masalahnya (problem solving).
Berikut ini disajikan defenisi konseling menurut para ahli yang dikelompokkan sebagai defenisi konvensional :
a.       Mortensen dan Schmuller (1964), menyatakan Konseling adalah jantungnya program bimbingan
b.      Ruth Strang dikutip dari urya dan Natawidjaja (1986), menyatakan bimbingan lebih luas daripada konseling, dan konseling merupakan alat penting dari pelayanan bimbingan, dengan kata lain konseling sebagai tekhniknya bimbingan
c.       Rogers (1951), menyatakan konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu konseli dengan tujuan memberikan bantuan kepadanya agar dapat mengubah sikap dan perilakunya.
d.      Tolbert yang dikutip dari Winkel (1991), mengemukakan bahwa konseling adalah bantuan pribadi secara tatap muka antara dua orang, yaitu seorang yang disebut konselor yang berkompeten dalam bidang konseling membantu seseorang yang disebut konseli.

2.      Defenisi Konseling Modern
Defenisi konseling modern merupakan hasil perkembangan konseling dalam abad teknologi, sehingga proses konseling dipengaruhi  oleh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informatika.

Menurut buku Dasar Standarisasi Profesi Konseling, Depdiknas (2004),   batasan konseling sebagai berikut :
a.       Konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan  dalam bingkai budaya
b.      Konseling adalah merupakan bantuan perkembangan individu (helping of individual development) dan kelompok individu (helping of individual group development)
c.       Konseling adalah pelayanan bantuan dengan menggunakan kerangka berpikir dan bertindak kemanusiaan, atau pengembangan konseling diorientasikan pada kondisi masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) yang menempatkan kemanusiaan dan belajar sepanjang hayat.
d.      Konseling adalah pelayanan bantuan yang berorientasi dari kondisi supply-side ke demand side yang menuntut upaya proaktif konselor dalam melayani konseli dengan menggunakan berbagai sumber dan teknologi informasi untuk memperkaya peran professional, mengembangkan manajemen informasi dan jaringan kerja , serta memanfaatkan berbagai jalur dan setting layanan baik formal maupun nonformal
e.       Konseling adalah suatu profesi yang terbuka dan berkembang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) serta tuntutan lingkungan akademis dan professional, sehingga mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi dunia pendidikan nasional dan kehidupan masyarakat.

B.     Tujuan Konseling
Secara umun tujuan konseling adalah agar konseli dapat mengubah perilakunya  kearah yang lebih maju (progressive behavior changed), melalui terlaksananya tugas-tugas perkembangan secara optimal , kemandirian, dan kebahagiaan  hidup. Secara khusus, tujuan konseling tergantung dari masalah yang dihadapi oleh masing-masing konseli.
Ø  Jones (1995) menyatakan setiap konselor dapat merumuskan tujuan konseling yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan masing-masing konseli
Ø  McDaniel yang dikutip dari Munandir (2005) tujuan konseling dirumuskan sebagai tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan jangka pendek, agar konseli dapat menemukan penyelasaian masalahnya sekarang, sedangkan tujuan jangka panjang adalah memberikan pengalaman belajar bagi konseli untuk mengembangkan pemahaman diri yang realistis, untuk menghadapi situasi baru, dan untuk mengembangkan pribadi mandiri yang bertanggung jawab.
Ø  Corey (1997) memerinci tujuan konselingkedalam dua kategori, yaitu tujuan-tujuan global dan tujuan-tujuan yang spesifik. Tujuan global sebagai berikut:
·         Konseli lebih menyadari diri, bergerak kearah kesadaran yang lebih penuh atas kehidupan batinnya, dan menjadi kurang melakukan penyangkalandan pendistorsian
·         Konseli menerima tanggung jawab yang lebih besar atas siapa dirinya, menerima perasaan-perasaannya sendiri, menghindari tindakan menyalahkan lingkungan dan orang lain atas keadaan dirinya dan menyadari bahwa sekarang dia bertanggung jawab untuk apa yang dilakukannya
·         Konseli menjadi lebih berpegang kepada kekuatan-kekuatan batin dan pribadinya sendiri, menghindari tindakan-tindakan memainkan  peran orang yang tak berdaya, dan menerima kekuatan yang dimilikinya untuk mengubah kehidupannya sendiri
·         Konseli memperjelas nilai-nilainya sendiri, mengambil perspektif yang lebih jelas atas masalah-masalah yang dihadapinya dan menemukan dalam dirinya sendiri penyelesaian-penyelesaian bagi konflik-konflik yang dialaminya
·         Konseli menjadi lebih terintegrasi serta menghadapi, mengakui, menerima, dan menangani aspek-aspek dirinya yang terpecah dan diingkari dan mengintegrasi semua perasaan dan pengalaman ke dalam seluruh hidupnya
·         Konseli belajar mengambil resiko yang akan membuka pintu-pintu kearah cara-cara hidup yang baru serta menghargai  kehidupan dengan ketidakpastiannya, yang diperlukan bagi pembangunan landasan untuk pertumbuhan
·         Konseli menjadi lebih memercayai diri serta bersedia mendorong dirinya sendiri untuk melakukan apa yang dipilih untuk dilakukannya

·         Konseli menjadi lebih sadar atas alternatif-alternatif yang mungkin serta bersedia memilih bagi dirinya sendiri dan menerima konsekuensi-konsekuensi dari pilihannya.
Tujuan-tujuan global tersebut masih sulit dievaluasi sehingga perlu dirumuskan ke dalam tujuan-tujuan yang spesifik yaitu tujuan konseling yang kongkret, berjangka pendek, dapat diamati, dan dapat diukur. Tujuan spesifik merupakan hasil mengkongkretkan tujuan global ke dalam bentuk-bentuk perilaku konseli yang spesifik sesuai dengan permasalahanmasing-masing konseli, sehingga setiap orang yang terlibat dalam konseling mengetahui secara pasti apa yang akan dicapainya.
C.      Ciri-ciri Konseling
·         Konseling sebagai profesi bantuan (helping profession)
·         Konseling sebagai hubungan pribadi (relationship counseling)
·         Konseling sebagai bentuk intervensi (Interventions repertoire)
·         Konseling untuk mayarakat luas (counseling for all)
·         Konseling sebagai pelayanan pikopedagosis (pycho-pedagogical service)
D.     Fungsi Pelayanan Konseling
Pelayanan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan konseling fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
·         Fungsi pemahaman yaitu fungsi konseling yang menghasilkan pemahaman bagi konseli atau kelompok konseli tentang dirinya , lingkungannya dan berbagai informasi yang dibutuhkan
·         Fungsi pencegahan adalah fungsi konseling yang menghasilkan kondisi bagi tercegahnya atau terhindarnya konseli atau kelompok konseli dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul.
·         Fungsi pengentasan adalah fungsi konseling yang menghasilkan kemampuan konseli atau kelompok konseli untuk memecahkan masalah-masalah yang dialaminya dalam kehidupan dan perkembangannya
·         Fungsi pemeliharaannya adalah yang menghasilkan kemampuan konseli atau kelompok konseli untuk memelihara dan mengembangkan berbagai potensi atau kondisi yang ssudah baik agar tetap menjadi baik untuk lebih dikembangkan secara mantap dan berkelanjutan
·         Fungsi advokasi adalah fungsi konseling yang menghasilkan kondisi pembelaan terhadap berbagai bentuk pengingkaran atas hak-hak dan/atau kepentingan pendidikan dan perkembangan yang dialami konseli atau kelompok konseli.