Pages

Tampilkan postingan dengan label Psikologi Abnormal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Abnormal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2022

GANGGUAN MOOD DEPRESI


 

Gangguan mood mencakup berbagai gangguan emosi yang membuat seseorang tidak dapat berfungsi. Mulai dari kesedihan pada depresi hingga euforia yang tidak realistis dan iritabilitas pada mania.


  •  Depresi --- Gejala dan Simtom
            Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan kesedihan yang amat sangat, perasaan tidak berarti dan bersalah; menarik diri dari orang lain; dan tidak dapat tidur, kehilangan selera makan, hasrat seksual, dan minat serta kesenangan dalam aktivitas yang biasa dilakukan. Sebagaimana sebagian besar dari kita kadang-kadang mengalami kecemasan, demikian juga kita mengalami kesedihan pada suatu masa dalam hidup kita meskipun mungkin tidak dengan kadar atau frekuensi yang cukup untuk menegakkan diagnosis depresi. Depresi sering kali berhubungan atau komorbid dengan berbagai masalah psikologis lain, seperti serangan panik, penyalahgunaan zat, disfungsi seksual, dan gangguan kepribadian.

            Memusatkan perhatian dapat menjadi sesuatu yang sangat melelahkan bagi orang-orang yang mengalami depresi. Mereka tidak dapat dengan mudah memahami apa yang mereka baca dan apa yang dikatakan orang pada mereka. Percakapan juga dapat menjadi suatu pekerjaan; orang-orang yang depresi berbicara dengan lambat, setelah lama terdiam, hanya menggunakan beberapa kata dan nada suara rendah serta monoton. Banyak yang lebih suka duduk sendirian dan berdiam diri. Beberapa penderita lain merasa sangat bersemangat dan tidak dapat duduk tenang. Mereka bergerak cepat, meremas tangan, selalu mengeluarkan suara mengeluh dan menyampaikan keluhan. Bila orang yang depresi dihadapkan pada suatu masalah, mereka tidak dapat memikirkan cara menyelesaikannya. Setiap moment menjadi sangat berat dan kepala mereka terus menerus dipenuhi dengan pikiran menyalahkan diri sendiri. Orang-orang yang depresi dapat mengabaikan kebersihan dan penampilan diri serta mengeluhkan berbagai simtom-somatik tanpa gangguan fisik yang jelas (Simon dkk., 1999). Sangat berkecil hati dan benar-benar tidak memiliki harapan serta inisiatif, mereka selalu merasa khawatir, cemas, dan pesimis hampir sepanjang waktu. 

            

            Simtom dan gejala-gejala depresi cukup bervariasi tergantung tingkatan usia. Depresi pada anak-anak seringkali mengakibatkan berbagai keluhan somatik, seperti sakit kepala atau sakit perut. Pada orang-orang tua depresi seringkali ditandai oleh ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian dan keluhan hilangnya memori. 


Davison, Gerald C, John M. Neale, Ann M. Kring. 2010. Psikologi Abnormal Edisi Sembilan. Jakarta: Rajawali Pers

Selasa, 18 Januari 2022

BEBERAPA MEKANISME PERTAHANAN EGO



  • Represi (Repression) Menjauhkan impuls atau harapan yang dapat diterima dari kesadaran. Contohnya, seorang profesor yang sangat cemas bila memberikan kuliah memulainya dengan mengatakan, "kesimpulannya..."
  • Pengingkaran (Denial) Menjauhkan kejadian-kejadian negatif dari kesadaran. Contohnya, seseorang yang mengalami incest di masa kecilnya tidak dapat mengingat kejadian tersebut ketika dewasa.
  • Proyeksi (Projection) Mengatribusikan kepada orang lain pikiran atau perasaannya sendiri. Contohnya, seseorang yang membenci kelompok ras tertentu percaya bahwa merekalah yang tidak menyukainya.
  • Displacement (Displacement) Mengalihkan perasaan dari sasaran sebenarnya ke orang lain. Contohnya, seorang anak yang marah kepada saudaranya namun kemudian mengalihkan kemarahannya kepada temannya.
  • Rasionalisasi (Rationalilzation) Memberikan penjelasan yang dapat diterima secara sosial yang bukan merupakan alasan sebenarnya dari perilakunya. Contohnya, orang tua yang berteriak dengan marah dan tidak sabar kepada anaknya, kemudiaan mengatakan bahwa dia melakukannya untuk "membangun karakter anak" 
  • Formasi Reaksi (Reaction Formation) Harapan atau impuls yang tidak dapat diterima diubah menjadi sebaliknya. Contohnya, seseorang yang memiliki hasrat seksual kepada anak-anak memimpin kampanye menentang penyiksaan seksual terhadap anak-anak.
  • Sublimasi (Sublimation) Impuls agresif atau seksual diubah menjadi perilaku prososial. Contohnya, seseorang yang memiliki perasaan agresif terhadap ayahnya kemudian menjadi seorang ahli bedah.


Davison, Gerald C, John M. Neale, Ann M. Kring. 2010. Psikologi Abnormal Edisi 9. Jakarta : Rajawali Pers

Jumat, 15 Juli 2016

TIGA TIPE GANGGUAN SKIZOFRENIK YANG TERCANTUM DALAM DSM-IV-TR


Skizofrenia Disorganisasi, bentuk hebefrenik skizofrenia yang dikemukakan kraepelin disebut Skizofrenia Disorganisasi  dalam DSM-IV-TR. Cara bicara mereka mengalami disorganisasi dan sulit dipahami oleh pendengar. Pasien dapat berbicara secara tidak runut, menggabungkan kata-kata yang terdengar sama dan bahkan menciptakan kata-kata baru, seringkali disertai kekonyolan atau tawa. Ia dapat memiliki afek datar atau terus-menerus mengalami  perubahan emosi, yang dapat meledak menjadi tawa atau tangis yang tidak dapat dipahami. Perilaku pasien secara umum tidak terorganisasi dan tidak bertujuan; contohnya pasien melilitkan pita ke ibu jari atau bergerak tanpa henti, menunjuk ke berbagai objek tanpa alasan yang jelas. Pasien kadangkala mengalami kemunduran sampai ke titik yang tidak pantas, buang besar di mana saja dan kapan saja, dan benar-benar mengabaikan penampilannya, tidak pernah mandi, menyikat gigi atau menyisir rambut.

Skizofrenia Katatonik, Simtom-simtom Skizofrenia Katatonik yang paling jelas adalah simtom-simtom katatonik yang disebutkan sebelumnya. Pasien umumnya bergantian mengalami imobilitas katatonik dan keriangan yang liar, namun salah satunya dapat lebih dominan. Para pasien tersebut menolak perintah dan saran dan seringkali menirukan kata-kata orang lain. onset reaksi katatonik dapat lebih tiba-tiba dibanding onset bentuk-bentuk lain skizofrenia, meskipun orang yang bersangkutan kemungkinan sebelumnya telah menunjukkan semacam apati dan menarik diri dari kenyataan. Anggota badan orang yang mengalami imobiltas katatonik dapat menjadi kaku dan bengkak; terlepas dari ketidaksadaran yang terlihat jelas, setelahnya ia bisa saja mampu menceritakan semua yang terjadi selama stupor tersebut. Dalam kondisi riang berlebihan orang yang katatonik dapat berteriak dan berbicara tanpa henti dan tidak runut, dan selalu bergerak cepat dengan semangat penuh. Skizofrenia Katatonik jarang ditemukan dewasa ini, mungkin karena terapi obat bekerja secara efektif bagi proses-proses motorik yang aneh tersebut.

Skizofrenia Paranoid, Diagnosis Skizofrenia Paranoid  diberikan kepada sejumlah pasien yang akhir-akhir ini dirawat di rumah sakit jiwa. Kunci diagnosis ini adalah adanya waham. Waham kejaran adalah yang paling umum, namun pasien dapat mengalami waham kebesaran, di mana mereka memiliki rasa yang berlebihan mengenai pentingnya kekuasaan, pengetahuan, atau identitas diri mereka. Beberapa pasien terjangkit waham cemburu, suatu keyakinan yang tidak berdasar bahwa pasangan seksual mereka tidak setia. Waham lain yang disebutkan terdahulu, seperti merasa dikejar atau dimatai-matai, juga dapat terlihat jelas. Halusinasi pendengaran yang jelas dan nyata dapat menyertai waham. Para pasien yang menderita Skizofrenia Paranoid seringkali mengalami ideos of reference; mereka memasukkan berbagai peristiwa yang tidak penting kedalam kerangka waham dan mengalihkan kepentingan pribadi mereka ke dalam aktivitas tidak berarti yang dilakukan orang lain. Contohnya , mereka mengira bahwa potongan percakapan yang tidak sengaja mereka dengar adalah percakapan tentang diri mereka, bahwa sering munculnya orang yang sama di suatu jalan yang biasa mereka lalui berarti mereka sedang diawasi, dan bahwa apa yang mereka lihat di televisi atau baca di majalah dengan satu atau lain caramerujuk pada mereka. Para individu yang mengalami Skizofrenia Paranoid selalu cemas, argumentatif, marah, dan kadang kasar. Secara emosional mereka responsif, meskipun mereka kaku, formal, dan intens kepada orang lain. mereka juga lebih sadar dan verbal dibanding para pasien Skizofrenia tipe lain. Bahasa yang mereka gunakan, meskipun penuh rujukan pada delusi, tidak mengalami disorganisasi.


Davison C. Gerald. Neale M. John.  Kring M. Ann (2010). Psikologi Abnormal Edisi ke-9, RajaGrafindo Persada, Jakarta.    

Sabtu, 26 September 2015

GANGGUAN KEPRIBADIAN AMBANG




Gangguan kepribadian ambang adalah salah satu gangguan kepribadian yang termasuk dalam kelompok dramatik/eratik. Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality-BPD) dicantumkan dalam DSM sebagai diagnosis resmi pada tahun 1980. Ciri-ciri utama gangguan ini adalah impulsivitas dan ketidakstabilan dalam hubungan dengan orang lain dan mood (Sanislow, Grilo, & McGlashan, 2000). Contohnya sikap dan perasaan terhadap orang lain dapat berubah-ubah secara signifikan dan aneh dalam kurun waktu yang tidak lama. Emosinya eratik dan dapat mendadak berubah total, terutama dari idealisasi yang penuh gelora menjadi kemarahan yang merendahkan. Pasien yang mengalami gangguan kepribadian ambang memiliki karakter argumentatif, mudah tersinggung, sarkastik, cepat menyerang, dan secara keseluruhan sangat sulit untuk hidup bersama mereka. Perilaku mereka yang tidak dapat diprediksi dan impulsif, yang dapat mencakup berjudi, boros, aktivitas seksual yang tidak pandang bulu, penyalahgunaan zat, dan makan berlebihan, berpotensi merusak diri sendiri.
                Para individu tersebut tidak memiliki rasa diri yang jelas dan konsisten dan tidak pernah memiliki kepastian dalam nilai-nilai, loyalitas, dan pilihan karier mereka. Mereka tidak tahan berada dalam kesendirian, memiliki rasa takut diabaikan , dan menuntut perhatian. Mudah mengalami perasaan depresi dan perasaan kosong yang kronis, mereka sering kali mencoba bunuh diri dan melakukan tindakan memutilasi diri sendiri, seperti mengiris kaki mereka dengan pisau silet. Simtom-simtom psikotik sementara dan disosiatif dapat terjadi ketika mengalami stres yang berat.

Kriteria Gangguan Kepribadian Ambang dalam DSM-IV-TR
Terdapat lima atau lebih dari kriteria di bawah ini:
  • ·         Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau hanya dalam bayangannya
  • ·         Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal, ditandai dengan perpecahan, yaitu mengidealkan orang lain dalam satu waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya.
  • ·         Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil
  • ·         Perilaku impulsif, termasuk sangat boros dan perilaku seksual yang tidak pantas.
  • ·         Perilaku bunuh diri (baik hanya berupa sinyal atau sungguh-sungguh mencoba) dan mutilasi diri yang berulang
  • ·         Kelabilan emosional yang ekstrem
  • ·         Perasaan kosong yang kronis
  • ·         Sangat sulit mengendalikan kemarahan
  • ·         Pikiran paranoid dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh stres

Etiologi Gangguan Kepribadian Ambang
                Terdapat beberapa sudut pandang mengenai penyebab gangguan kepribadian ambang, yaitu penelitian biologis, teori objek-hubungan, dan teori diathesis-stres dari Linehan.
Faktor-faktor Biologis, gangguan kepribadian ambang dialami oleh lebih dari satu anggota dalan satu keluarga, menunjukkan bahwa gangguan ini dapat memiliki komponen genetik (Baron dkk., 1985). Para pasien ambang juga memiliki neorutisisme tinggi, suatu trait yang diketahui diturunkan secara genetik (Nigg & Goldsmith, 1994). Beberapa data menunjukkan adanya kelemahan fungsi lobus frontalis, yang sering kali diduga berperan dalam perilaku impulsif. Sebagai contoh, para pasien dengan gangguan kepribadian ambang mendapatkan hasil buruk dalam tes-tes neurologi terhadap fungsi lobus frontalis, dan mereka memiliki kadar metabolisme glukosa yang rendah pada lobus frontalis (Goyer dkk., 1994). Dalam alur yang sama, para pasien dengan gangguan kepribadian ambang mengalami peningkatan aktivitas amigdala, suatu struktur dalam otak yang dianggap sangat penting dalam pengaturan emosi (Herpezt dkk.,2001). Meningkatnya aktivitas amigdala dapat sangat relevan dengan emosi intens yang dialami pasien ambang.
Teori Objek-Hubungan (Object Relations Theory), teori objek-hubungan, sebuah varian penting teori psikoanalis , membicarakan tentang cara anak-anak menyerap (atau mengintroyeksi) nilai-nilai dan citra orang-orang penting, misalnya orang tua mereka. Dengan kata lain, fokusnya adalah pada cara anak-anak mengidentifikasikan diri dengan orang-orang yang memiliki kelekatan emosional kuat dengan mereka. Orang-orang diintroyeksi (representasi objek) tersebut menjadi bagian ego seseorang, namun mereka dapat menimbulkan konflik dengan harapan, tujuan, dan idealisme orang tersebut ketika tumbuh dewasa. Para theoris objek-hubungan mengemukakan hipotesis bahwa orang bereaksi terhadap dunia melalui perspektif orang-orang penting di masa lalu mereka, terutama orang tua atau pengasuh utama.  Kerberg  (1985) berpendapat bahwa pengalaman masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan menyebabkan  anak-anak mengembangkan ego yang tidak merasa aman, sebuah ciri utama gangguan kepribadian ambang.
Teori Diathesis-Stres Linehan, Linehan berpendapat bahwa gangguan kepribadian ambangterjadi bila orang yang memiliki diathesis biologis (kemungkinan genetik) berupa kesulitan mengendalikan emosi dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menginvalidasi. Yaitu, suatu diathesis yang disebutnya disregulasi emosional dapat berinteraksi dengan berbagai pengalaman yang menginvalidasi si anak sedang berkembang-mendorong berkembangnya kepribadian ambang. Lingkungan yang menginvalidasi adalah lingkungan di mana keinginan dan perasaan seseorang tidak dipertimbangkan dan tidak dihargai; berbagai upaya untuk mengkomunikasikan perasaan tidak diterima atau bahkan dihukum. Bentuk invalidasi ekstrem adalah penyiksaan anak, seksual dan nonseksual.  Dua faktor hipotesis utama –disregulasi dan invalidasi- saling berinteraksi secara dinamis. Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki disregulasi emosional sangat banyak menuntut kepada keluarganya. Orang tua yang merasa frustasi mengabaikan atau bahkan menghukum ledakan emosi si anak. Respon ini dapat mendorong si anak memendam emosinya, yang hanya akan membuatnya semakin kuat dan akhirnya meledak, yang kemudian menarik perhatian orang tuanya. Apa yang terjadi adalah orang tua akhirnya dapat menguatkan perilaku yang mereka tidak pantas. Tentu saja banyak kemungkinan pola lain, namun yang menjadi persamaanya adalah suatu pola dua arah yang konstan, sebuah lingkaran setan, antara diathesis disregulasi dan stres invalidasi.

GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK




Gangguan kepribadian histrionik adalah salah satu gangguan kepribadian yang termasuk dalam kelompok dramatik/eratik. Diagnosis kepribadian histrionik , yang sebelumnya disebut kepribadian histerikal, ditegakkan bagi orang-orang yang terlalu dramatis dan mencari perhatian. Mereka seringkali menggunakan ciri-ciri penampilan fisik, seperti pakaian yang tidak umum, rias wajah, atau warna rambut untuk menarik perhatian orang kepada mereka. Para individu tersebut, meskipun menunjukkan emosi secara berlebihan, diperkiran memiliki kedangkalan emosi. Mereka berpusat pada diri sendiri, terlalu memedulikan daya tarik fisik mereka, dan merasa tidak nyaman bila tidak menjadi pusat perhatian. Mereka dapat sangat provokatif dan tidak senonoh secara seksual tanpa memedulikan kepantasan dan mudah dipengaruhi orang lain. Bicaranya seringkali tidak tepat dan kurang memiliki detail. Sebagai contoh mereka dapat menyatakan pendapat secara tegas, namun tidak dapat memberikan informasi yangmendukung. Diagnosis ini memiliki prevalensi sekitar 2 persen dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki (Torgersen, Kringlen, & Cramer, 2001). Gangguan kepribadian histrionik lebih banyak terjadi dikalangan orang-orang yang mengalami perpisahan atau perceraian dengan pasangannya, dan dihubungkan dengan depresi serta kesehatan fisik yang buruk (Nestadt dkk., 1990). Komorditasnya dengan kepribadian ambang juga tinggi.
Kriteria Gangguan Kepribadian Histrionik dalam DSM-IV-TR
Terdapat lima atau lebih ciri-ciri di bawah ini:
  • ·         Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian
  • ·         Perilaku tidak senonoh secara seksual yang tidak pantas
  • ·         Perubahan ekspresi emosi secara cepat
  • ·         Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya
  • ·         Bicaranya sangat tidak tepat, penuh semangat mempertahankan pendapat yang kurang memiliki detail
  • ·         Berlebihan, ekspresi emosional yang teatrikal
  • ·         Sangat mudah disugesti
  • ·         Menyalahartikan hubungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya

Etiologi Gangguan Kepribadian Histrionik
                Teori psikoanalisis mendominasi dan berpendapat bahwa emosionalitas dan ketidaksenonohan perilaku secara seksual  didorong oleh ketidak senonohan orang tua, terutama ayah kepada anak perempuannya. Pasien yang mengalami gangguan ini diduga dibesarkan dalam lingkungan keluarga di mana orang tua berbicara tentang seks sebagi sesuatu yang menyenangkan dan diiinginkan. Pola asuh tersebut dapat menjelaskan fokus pikiran pada seks, dikombinasi dengan ketakutan untuk benar-benar berperilaku secara seksual. Ekspresi emosi yang berlebihan pada orang-orang histrionik dipandang sebagai simtom-simtom konflik tersembunyi tersebut, dan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara untuk mempertahankan diri dari perasaan yang sebenarnya yaitu harga diri yang rendah (Apt & Hurlbert, 1994; Stone, 1993).

GANGGUAN KEPRIBADIAN KELOMPOK ANEH/EKSENTRIK




Kelompok aneh/eksentrik terdiri dari tiga diagnosis-gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal. Simtom-simtom gangguan tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan simtom-simtom skizofrenia, terutama dengan simtom ringan dalam fase prodormal dan residual.
Gangguan Kepribadian Paranoid
                Individu yang mengalami gangguan kepribadian paranoid  selalu mencurigai orang lain. Orang-orang dengan diagnosis ini merasa dirinya diperlakukan secara salah dan dieksploitasi oleh orang lain sehingga berperilaku misterius dan selalu waspada terhadap tanda-tanda adanya tipu daya atau pelecehan. Mereka seringkali kasar dan bereaksi dengan kemarahan terhadap apa yang mereka anggap sebagai penghinaan. Individu semacam itu enggan memercayai orang lain dan cenderung menyalahkan mereka serta menyimpan dendam meskipun bila ia sendiri juga salah. Mereka sangat pencemburu dan tanpa alasan dapat mempertanyakan kesetiaan pasangan atau kekasih mereka.
                Para pasien yang mengalami gangguan kepribadian paranoid dipenuhi keraguan yang tidak beralasan terhadap kesetiaan orang lain atau bahwa orang lain tersebut dapat dipercaya. Mereka dapat melihat makna negatif atau ancaman pada berbagai kejadian; contohnya, individu dapat merasa yakin bahwa anjing milik tetangganya sengaja menggongong di awal pagi untuk mengganggunya. Diagnosis ini berbeda dari skizofrenia tipe paranoid karena simtom-simtom lain skizofrenia, seperti halusinasi, tidak terjadi dan keberfungsian sosial dan pekerjaan tidak terlalu terpengaruh. Juga tidak terjadi disorganisasi kognitif yang merupakan karakteristik skizofrenia . diagnosis juga ini berbeda dari gangguan waham karena tidak terjadi delusi penuh.
                Gangguan kepribadian paranoid paling bayak terjadi pada kaum laki-laki dan paling banyak dialami bersamaan dengan gangguan kepribadian skizotipal, ambang, dan menghindar (Bernstein, 1993; Morey, 1988). Prevalensinya berkisar 2 persen (Torgersen, Kringlen, & Cramer, 2001).
 Kriteria Gangguan Kepribadian paranoid dalam DSM-IV-TR
  • ·         Kecurigaan yang bersifat pervasif bahwa dirinya sedang dicelakai, dikhianati, atau dieksploitasi
  • ·         Keraguan yang tidak berdasar terhadap kesetiaan teman-teman atau para rekanan dan bahwa mereka dapat dipercaya
  • ·         Enggan memercayai orang lain karena  kriteria di atas
  • ·         Memberikan makna tersendiri terhadap berbagai tindakan orang lain yang tidak mengandung maksud apapun
  • ·         Mendendam atas berbagai hal yang dianggapnya sebagai kesalahan
  • ·         Reaksi berupa kemarahan terhadap apa yang dianggapnya sebagai serangan terhadap karakter atau reputasi
  • ·         Sama dengan dua kriteria pertama, kecurigaan yang tidak berdasar terhadap kesetiaan pasangan hidupnya atau pasangan seksual lain.
Gangguan Kepribadian Skizoid
Kriteria Gangguan Kepribadian Skizoid dalam DSM-IV-TR
  • ·         Kurang berminat atau kurang menyukai hubungan dekat
  • ·         Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian
  • ·         Kurangnya minat untuk berhubungan seks
  • ·         Hanya sedikit, jika ada, mengalami kesenangan
  • ·         Kurang memiliki teman
  • ·         Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain
  • ·         Afek datar, ketidaklekatan emosional
Pasien yang mengalami gangguan kepribadian skizoid tidak menginginkan atau menikmati hubungan sosial dan biasanya tidak memiliki teman akrab. Mereka tampak tumpul , datar, dan menyendiri serta tidak mempunyai perasaan hangat serta tulus kepada orang lain. Mereka jarang memilki emosi kuat, tidak tertarik pada hubungan seks, dan hanya mengalami sedikit aktivitas yang menyenangkan. Bersikap masa bodoh terhadap pujian, kritikan, dan perasaan orang lain, individu yang mengalami gangguan ini adalah seorang penyendiri dan menyukai berbagai aktivitas yang dilakukan dalam kesendirian. Prevalensi gangguan kepribadian skizoid dilaporkan kurang dari 2 persen. Prevalensinya sedikit lebih kecil pada kaum perempuan dibanding pada kaum laki-laki (Torgersen, Kringlen, & Cramer, 2001).

Gangguan Kepribadian Skizotipal
Kriteria Gangguan Kepribadian Skizotipal dalam DSM-IV-TR
  • ·         Ideas of reference
  • ·         Keyakinan yang aneh atau pemikiran magis, a,l,. Percaya terhadap persepsi ekstra indrawi
  • ·         Persepsi yang tidak biasa, a,l,. Keyakinan yang menyimpang tentang tubuhnya
  • ·         Pola bicara aneh
  • ·         Kecurigaan yang ekstrem, paranoid
  • ·         Afek yang tidak sesuai
  • ·         Perilaku atau penampilan yang aneh
  • ·         Kurang memilki teman akrab
  • ·         Rasa tidak nyaman yang ekstrem atau kadang kecemasan yang ekstrem bila berada diantara orang lain

Para pasien yang mengalami gangguan keperibadian skizotipal biasanya memilki kesulitan dalam hubungan interpersonal yang terjadi dalam kepribadian skizoid dan kecemasan sosial yang berlebihan yang tidak berkurang setelah mereka mengenal orang-orang disekitarnya. Beberapa simtom tambahan yang lebih eksentrik terjadi dalam gangguan kepribadian skizotipal. Simtom-simtom tersebut pada intinya adalah simtom-simtom yang menandai fase prodormal dan residual skizofrenia.
Para pasien yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal dapat memiliki kepercayaan yang aneh atau pemikiran magis-takhayul, keyakinan bahwa mereka memiliki kemampuan paranormal dan telepati-dan ilusi yang berulang-mereka dapat merasakan kehadiran suatu kekuatan atau seseorang yang secara aktual tidak berada disana. Dalam pembicaraan, mereka dapat menggunakan kata-kata dengan cara yang tidak umum dan tidak jelas, contohnya, “bukan orang yang sangat dapat berbicara.” Perilaku dan penampilan mereka juga eksentrik; sebagai contoh, mereka berbicara kepada diri sendiri dan memakai pakaian yang kotor serta kusut. Ciri yang juga umum terjadi adalah ideas of reference (keyakinan bahwa berbagai kejadian memiliki makna yang khusus dan tidak biasa bagi orang yang bersangkutan), kecurigaan, dan pikiran paranoid. Afek tampak terbatas dan datar.