Pages

Sabtu, 26 September 2015

GANGGUAN KEPRIBADIAN AMBANG




Gangguan kepribadian ambang adalah salah satu gangguan kepribadian yang termasuk dalam kelompok dramatik/eratik. Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality-BPD) dicantumkan dalam DSM sebagai diagnosis resmi pada tahun 1980. Ciri-ciri utama gangguan ini adalah impulsivitas dan ketidakstabilan dalam hubungan dengan orang lain dan mood (Sanislow, Grilo, & McGlashan, 2000). Contohnya sikap dan perasaan terhadap orang lain dapat berubah-ubah secara signifikan dan aneh dalam kurun waktu yang tidak lama. Emosinya eratik dan dapat mendadak berubah total, terutama dari idealisasi yang penuh gelora menjadi kemarahan yang merendahkan. Pasien yang mengalami gangguan kepribadian ambang memiliki karakter argumentatif, mudah tersinggung, sarkastik, cepat menyerang, dan secara keseluruhan sangat sulit untuk hidup bersama mereka. Perilaku mereka yang tidak dapat diprediksi dan impulsif, yang dapat mencakup berjudi, boros, aktivitas seksual yang tidak pandang bulu, penyalahgunaan zat, dan makan berlebihan, berpotensi merusak diri sendiri.
                Para individu tersebut tidak memiliki rasa diri yang jelas dan konsisten dan tidak pernah memiliki kepastian dalam nilai-nilai, loyalitas, dan pilihan karier mereka. Mereka tidak tahan berada dalam kesendirian, memiliki rasa takut diabaikan , dan menuntut perhatian. Mudah mengalami perasaan depresi dan perasaan kosong yang kronis, mereka sering kali mencoba bunuh diri dan melakukan tindakan memutilasi diri sendiri, seperti mengiris kaki mereka dengan pisau silet. Simtom-simtom psikotik sementara dan disosiatif dapat terjadi ketika mengalami stres yang berat.

Kriteria Gangguan Kepribadian Ambang dalam DSM-IV-TR
Terdapat lima atau lebih dari kriteria di bawah ini:
  • ·         Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau hanya dalam bayangannya
  • ·         Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersonal, ditandai dengan perpecahan, yaitu mengidealkan orang lain dalam satu waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya.
  • ·         Rasa diri (sense of self) yang tidak stabil
  • ·         Perilaku impulsif, termasuk sangat boros dan perilaku seksual yang tidak pantas.
  • ·         Perilaku bunuh diri (baik hanya berupa sinyal atau sungguh-sungguh mencoba) dan mutilasi diri yang berulang
  • ·         Kelabilan emosional yang ekstrem
  • ·         Perasaan kosong yang kronis
  • ·         Sangat sulit mengendalikan kemarahan
  • ·         Pikiran paranoid dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh stres

Etiologi Gangguan Kepribadian Ambang
                Terdapat beberapa sudut pandang mengenai penyebab gangguan kepribadian ambang, yaitu penelitian biologis, teori objek-hubungan, dan teori diathesis-stres dari Linehan.
Faktor-faktor Biologis, gangguan kepribadian ambang dialami oleh lebih dari satu anggota dalan satu keluarga, menunjukkan bahwa gangguan ini dapat memiliki komponen genetik (Baron dkk., 1985). Para pasien ambang juga memiliki neorutisisme tinggi, suatu trait yang diketahui diturunkan secara genetik (Nigg & Goldsmith, 1994). Beberapa data menunjukkan adanya kelemahan fungsi lobus frontalis, yang sering kali diduga berperan dalam perilaku impulsif. Sebagai contoh, para pasien dengan gangguan kepribadian ambang mendapatkan hasil buruk dalam tes-tes neurologi terhadap fungsi lobus frontalis, dan mereka memiliki kadar metabolisme glukosa yang rendah pada lobus frontalis (Goyer dkk., 1994). Dalam alur yang sama, para pasien dengan gangguan kepribadian ambang mengalami peningkatan aktivitas amigdala, suatu struktur dalam otak yang dianggap sangat penting dalam pengaturan emosi (Herpezt dkk.,2001). Meningkatnya aktivitas amigdala dapat sangat relevan dengan emosi intens yang dialami pasien ambang.
Teori Objek-Hubungan (Object Relations Theory), teori objek-hubungan, sebuah varian penting teori psikoanalis , membicarakan tentang cara anak-anak menyerap (atau mengintroyeksi) nilai-nilai dan citra orang-orang penting, misalnya orang tua mereka. Dengan kata lain, fokusnya adalah pada cara anak-anak mengidentifikasikan diri dengan orang-orang yang memiliki kelekatan emosional kuat dengan mereka. Orang-orang diintroyeksi (representasi objek) tersebut menjadi bagian ego seseorang, namun mereka dapat menimbulkan konflik dengan harapan, tujuan, dan idealisme orang tersebut ketika tumbuh dewasa. Para theoris objek-hubungan mengemukakan hipotesis bahwa orang bereaksi terhadap dunia melalui perspektif orang-orang penting di masa lalu mereka, terutama orang tua atau pengasuh utama.  Kerberg  (1985) berpendapat bahwa pengalaman masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan menyebabkan  anak-anak mengembangkan ego yang tidak merasa aman, sebuah ciri utama gangguan kepribadian ambang.
Teori Diathesis-Stres Linehan, Linehan berpendapat bahwa gangguan kepribadian ambangterjadi bila orang yang memiliki diathesis biologis (kemungkinan genetik) berupa kesulitan mengendalikan emosi dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang menginvalidasi. Yaitu, suatu diathesis yang disebutnya disregulasi emosional dapat berinteraksi dengan berbagai pengalaman yang menginvalidasi si anak sedang berkembang-mendorong berkembangnya kepribadian ambang. Lingkungan yang menginvalidasi adalah lingkungan di mana keinginan dan perasaan seseorang tidak dipertimbangkan dan tidak dihargai; berbagai upaya untuk mengkomunikasikan perasaan tidak diterima atau bahkan dihukum. Bentuk invalidasi ekstrem adalah penyiksaan anak, seksual dan nonseksual.  Dua faktor hipotesis utama –disregulasi dan invalidasi- saling berinteraksi secara dinamis. Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki disregulasi emosional sangat banyak menuntut kepada keluarganya. Orang tua yang merasa frustasi mengabaikan atau bahkan menghukum ledakan emosi si anak. Respon ini dapat mendorong si anak memendam emosinya, yang hanya akan membuatnya semakin kuat dan akhirnya meledak, yang kemudian menarik perhatian orang tuanya. Apa yang terjadi adalah orang tua akhirnya dapat menguatkan perilaku yang mereka tidak pantas. Tentu saja banyak kemungkinan pola lain, namun yang menjadi persamaanya adalah suatu pola dua arah yang konstan, sebuah lingkaran setan, antara diathesis disregulasi dan stres invalidasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar