Pages

Minggu, 05 Mei 2013

Makalah Psikologi Lansia Post Power Syndrome


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Ada suatu penyakit kejiwaan yang terjadi dalam masyarakat yang sangat ditakuti yaitu Post Power Syndrome. Fenomena ini biasanya muncul atau terjadi pada orang-orang yang baru saja kehilangan kekuasaan maupun kelebihan-kelebihan lainnya, baik karena pensiun, PHK, mutasi, kehilangan popularitas, atau karena sebab lainnya. Pada saat tidak menjabat atau berkuasa dan tidak populer lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan atau emosi yang kurang stabil yang biasanya bersifat negative. Mereka kecewa terhadap hidup, karena yang bersangkutan tidak lagi dihormati dan dipuja-puji seperti ketika masih berkuasa maupun saat memiliki kelebihan-kelebihan lainnya. Kondisi ini disebut sebagai post power syndrome. Pada gejala post power syndrome ini, khususnya adalah adanya gejala yang terjadi dimana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu ( kekuasaannya, karirnya,kecantikannya, ketampanannya, kepopulerannya, kecerdasannya, dll), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Ketika semua itu tidak dimilikinya, maka timbullah berbagai gangguan psikis dan phisik yang semestinya tidak perlu. Mereka bereaksi dan mendadak menjadi sangat sensitive dan merasa hidupnya akan segera berakhir hanya karena masa kejayaannya telah berlalu (Kartono, 1997).

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan-permasalahan lanjut usia tersebut maka rumusan masalah  dari pengaruh faktor-faktor kondisi kesehatan, kondisi ekonomi dan kondisi sosial terhadap kemandirian orang lanjut usia adalah :
1.      Apakah faktor-faktor yang menyebabkan Post Power Syndrome ?
2.      Bagaimanakah cara penanganan pada Lansia Post Power Syndrome ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Post Power Syndrome
Syndrome adalah kumpulan gejala-gejala negatif, sedangkan power adalah kekuasaan, dan post adalah pasca.Dengan demikian terjemahan dari post power syndrome adalah gejala-gejala setelah berakhirnya kekuasaan. Gejala ini umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai kekuasaan, namun ketika sudah tidak berkuasa lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan yang biasanya bersifat negatif atau emosi yang kurang stabil.
Secara umum syndrome ini dapat dikatakan sebagai masa krisis pada fase-fase perkembangan tertentu dalam kehidupan. Pada gejala post power syndrome ini terutama akan terjadi pada orang yang mendasarkan harga dirinya pada kekuasaan. Dengan demikian post power syndrome ini bersumber dari kenyataan bahwa dia tersingkir dari posisi, dari lingkungan kerja dan dari kebermaknaan diri sebagaimana teori hirarkhi kebutuhan manusia yang dikemukakan oleh Abraham Maslow.
Bagaimana bentuk post power syndrome yang dialami, sangat tergantung pada bagaimana orientasinya semasa aktif. Bila dia tergolong Structure oriented (penekanan pada struktur/jabatan), syndrome ini akan lama menghinggapi dan menggerogoti harga dirinya, sedang jika functional oriented (penekanan pada fungsi), maka dia akan memberdayakan apa yang masih dapat difungsikan dari dirinya

B.    Pengaruh Fungsi Keluarga dalam Post Power Syndrome
Keluarga mempunyai pengaruh yang paling besar ketika terjadinya Post Power Syndrome yang terjadi pada seseorang, berikut ini merupakan alasan mengapa unit keluarga harus menjadi fokus sentral dari perawatan pada seseorang yang menderita Post Power Syndrome..
1.      Dalam unit keluarga, disfungsi apa saja yang mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga, dan dalam hal tertentu, seringkali akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit ini secara keseluruhan.
2.      Ada semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan anggotanya, bahwa peran dari keluarga sangta penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga secara individu, mulai dari strategi- strategi hingga fase rehabilitasi.
3.      Dapat mengangkat derajat kesehatan keluarga secara menyeluruh, yang mana secara tidak langsung mengangkat derajat kesehatan dari setiap anggota keluarga.
4.      Dapat menemukan faktor – faktor resiko.
5.      Seseorang dapat mencapai sesuatu pemahaman yang lebih jelas terhadap individu – individu dan berfungsinya mereka bila individu – individu tersebut dipandang dalam konteks keluarga mereka.
6.       Mengingat keluarga merupakan sistem pendukung yang vital bagi individu-individu, sumber dari kebutuhan-kebutuhan ini perlu dinilai dan disatukan kedalam perencanaan tindakan bagi individu-individu.

C.     Fase Penyesuaian Diri Pada Saat Pensiun
Penyesuaian diri pada saat pensiun merupakan saat yang sulit, dan terdapat    tiga fase proses pensiun:
1.      Preretirement phase (fase pra pensiun)  Fase ini bisa dibagi pada 2 bagian lagi yaitur em ote dannear . Padar em ote phase, masa pensiun masih dipandang sebagai suatu masa yang jauh. Biasanya fase ini dimulai pada saat orang tersebut pertama kali mendapat pekerjaan dan masa ini berakhir ketika orang terebut mulai mendekati masa pensiun. Sedangkan pada near phase, biasanya orang mulai sadar bahwa mereka akan segera memasuki masa pensiun dan hal ini membutuhkan penyesuaian diri yang baik. Ada beberapa perusahaan yang mulai memberikan program persiapan masa pensiun.
2.     Retirement phase (fase pensiun)  Masa pensiun ini sendiri terbagi dalam 4 fase besar, dan dimulai dengan tahapan pertama yakni honeymoon phase. Periode ini biasanya terjadi tidak lama setelah orang memasuki masa pensiun. Sesuai dengan istilah honeymoon (bulan madu), maka perasaan yang muncul ketika memasuki fase ini adalah perasaan gembira karena bebas dari pekerjaan dan rutinitas. Biasanya orang mulai mencari kegiatan pengganti lain seperti mengembangkan hobi. Kegiatan inipun tergantung pada kesehatan, keuangan, gaya hidup dan situasi keluarga. Lamanya fase ini tergantung pada kemampuan seseorang. Orang yang selama masa kegiatan aktifnya bekerja dan gaya hidupnya tidak bertumpu pada pekerjaan, biasanya akan mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan kegiatan lain yang juga menyenangkan. Setelah fase ini berakhir maka akan masuk pada fase kedua yakni disenchatment phase. Pada fase ini pensiunan mulai merasa depresi, merasa kosong. Untuk beberapa orang pada fase ini, ada rasa kehilangan baik itu kehilangan kekuasaan martabat, status, penghasilan, teman kerja, aturan tertentu. Pensiunan yang terpukul pada fase ini akan memasuki reorientation phase, yaitu fase dimana seseorang mulai mengembangkan pandangan yang lebih realistik mengenai alternatif hidup. Mereka mulai mencari aktivitas baru. Setelah mencapai tahapan ini, para pensiunan akan masuk pada stability phase yaitu fase dimana mereka mulai mengembangkan suatu set kriteria mengenai pemilihan aktivitas, dimana mereka merasa dapat hidup tentram dengan pilihannya.
3.      End of retirement (fase pasca masa pensiun)  Biasanya fase ini ditandai dengan penyakit yang mulai menggerogoti seseorang, ketidak-mampuan dalam mengurus diri sendiri dan keuangan yang sangat merosot. Peran saat seorang pensiun digantikan dengan peran orang sakit yang membutuhkan orang lain untuk tempat bergantung.

D.   Ciri-ciri Orang Yang Rentan Menderita Post Power Syndrome
1.         Orang-orang yang senangnya dihargai dan dihormati orang lain, yang
permintaannya selalu dituruti, yang suka dilayani orang lain.
Orang-orang yang senangnya dihargai dan dihormati orang lain, yang
permintaannya selalu dituruti, yang suka dilayani orang lain.
2.      Orang-orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain karena kurangnya harga diri, jadi kalau ada jabatan dia merasa lebih diakui oleh orang lain.
3.      Orang-orang yang menaruh arti hidupnya pada prestise jabatan dan pada kemampuan untuk mengatur hidup orang lain, untuk berkuasa terhadap orang lain. Istilahnya orang yang menganggap kekuasaan itu segala- galanya atau merupakan hal yang sangat berarti dalam hidupnya.
4.      Antara pria dan wanita, pria lebih rentan terhadap post power sindrome karena pada wanita umumnya lebih menghargai relasi dari pada prestise, prestise dan kekuasaan itu lebih dihargai oleh pria.

E.    Beberapa Gejala Post Power Syndrome
1.      Gejala fisik, misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah, sakit-sakitan.
2.      Gejala emosi, misalnya mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi dan tak suka dibantah.
3.      Gejala perilaku, misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, mencela, mengkritik, tak mau kalah, dan menunjukkan kemarahan baik di rumah maupun di tempat umum

Post-power syndrome, adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Penderita Post Power Syndrome selalu ingin mengungkapkan betapa bangga dengan masa lalu yang dilewatinya dengan jerih payah yang luar biasa (menurutnya).




F.    Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Post Power Syndrome
1.    Pensiun, PHK atau pudarnya ketenaran seorang artis adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang tiba masa pensiunnya tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrom akan dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrom yang menyerangnya akan semakin parah.
2.    Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post-power syndrome. Misalnya kecelakaan yang dialami oleh seorang pembalap, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi. Bila dia tidak mampu menerima keadaan yang dialaminya, dia akan mengalami post-power syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan dideritanya.
3.    Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya post-power syndrome yang berat semakin besar.

G.   Penyebab Internal Post Power Syndrome 
Turner dan Helms (1983) mengatakan bahwa penyebab faktor internal
bagi berkembangnya post power syndrome pada diri seseorang,  adalah :
1.      Kehilangan jabatan (kepemilikan kekuasaan) berarti kehilangan harga diri, yaitu hilangnya perasaan memiliki dan atau dimiliki. Dengan jabatan pula seseorang merasa lebih yakin diri , karena diakui kemampuannya.
2.      Kehilangan latar belakang kelompok khusus atau eksklusif
3.      Kehilangan kewibawaan
4.      Kehilangan perasaan berarti dalam satu kelompok tertentu
5.      Kehilangan orientasi kerja
6.      Kehilangan sumber penghasilan (fasilitas) yang terkait dengan jabatan yang dipegang.

H.   Penanganan
Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis atau catering misalnya), ia akan terhindar dari resiko terserang post-power syndrome. Oleh karena itu saat ini beberapa perusahaan pemerintah memberikan pelatihan wirausaha yang dikhususkan untuk calon pensiunan.
Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, serta kematangan emosi seseorang sangat berpengaruh untuk melewati fase post-power syndrome ini. Seseorang yang bisa menerima kenyataan dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi. Pastinya akan lebih membutuhkan banyak proses dan kalau tidak berhasil, biasanya penyakit2 tertentu akan mudah menyerang seperti pikun, darah tinggi, jantung, diabetes bahkan stroke.
Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya, karena sudah tidak mampu mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih mampu berpikir secara rasional. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya, meskipun tidak sehebat dulu. Namun akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah tidak memperdulikannya.
Post-power syndrome dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Baik tua maupun muda Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome antara lain gemar menabung, hidup sederhana, banyak oleh raga dan pandai bersosialisasi. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, makan yang berlemak,dsb, akibatnya akan lebih parah.

I.      Bila Post Power Syndrome Sudah Terlanjur Menyerang ?
1.     Arahkan kepada kegiatan yang membuatnya merasa nyaman, misalnya    kegiatan olah raga, kerohanian, dan peduli lingkungan, sebisa mungkin kegiatan yang melibatkan orang banyak, dengan begitu akan meminimalisir pengaruh post power syndrome.
2.     Arahkan kepada kegiatan yang membuatnya merasa nyaman, misalnya    kegiatan olah raga, kerohanian, dan peduli lingkungan, sebisa mungkin kegiatan yang melibatkan orang banyak, dengan begitu akan meminimalisir pengaruh post power syndrome.
3.     Tidak ada salahnya pula kita memahami penderita dengan menyimak setiap cerita cerita heroiknya, dengan begitu kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang dilaluinya, lebih bagus lagi mereka dijadikan narasumber pada setiap seminar atau perkumpulan2.
Yang terpenting dari kasus ini adalah peranan orang sekitar termasuk kita yang harus memahami bahwa post power syndrome dapat menyerang siapa saja, dan kapan saja. Oleh karena itu dengan menjadi pribadi yang banyak bersyukur dan berbagi kepada sesama kita dapat terhindar dari penyakit tersebut.

J.      Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Mencegah Post Power Syndrome
              Untuk mengeliminir permasalahan penyebab berkembangnya post
power syndrome, lebih lanjut Turner dan Helms mengemukakan kiat- kiat yang harus dilakukan, yaitu :
1.      Perlu belajar memahami, bahwa jabatan atau kekuasaan itu adalah karunia atau amanat dari Tuhan Yang maha Esa. Kita hanya sebagai alat dan tidak mengklaim itu adalah atas kehebatan saya yang menjadi milik saya yang harus dipertahankan sepenuhnya.Setinggi apapun jabatan kita itu adalah karunia dan kita hanya sebagai alat untuk melakukan pekerjaan-Nya.
2.      Harus ada kesadaran bahwa kekuasaan itu hanya bersifat sementara dan tidak bersifat permanen atau mapan dan harus menyiapkan diri apabila suatu saat kekuasaan itu akan lepas atau ditarik dari kita.
3.      Selama berkuasa, sebaiknya tidak memikirkan bagaimana mempertahankan kekuasaan, tetapi melakukan dan menjalankan kekuasaan itu sebaik- baiknya, dan pikirkan untuk melakukan kaderisasi.
4.      Perlu belajar rendah hati, hindarkan sikap mentang-mentang.
5.      Tingkatkan hubungan baik atau relasi dengan teman sejawat, bawahan atau pihak lain, dalam rangka meluaskan jaringan sebagai bekal selepas dari jabatan.
6.      Menanamkan kebaikan selama berkuasa, jangan menyakiti hati dan menindas orang .
7.       Meningkatkan kemampuan dan keterampilan lain diluar dari jabatan atau pekerjaan yang sedang ditekuni, sebagai bekal dikemudian hari.

K.  Kiat Menghadapi Pasca Lepasnya Kekuasaan
Tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya  post power syndrome , menurut psikolog Jacinta F. Rini, dapat  ditempuh dengan cara-cara :
1.      Mampukan menempatkan diri (menyadari) tentang perbedaan hak
dan kewajiban selaku seorang yang telah kehilangan jabatan atau kekuasaan.
2.       Luangkan waktu untuk terus berdoa.
3.      Hadapi secara rileks. Ketegangan dan kecemasan tidak  menyelesaikan masalah.
4.      Bercermin dan belajarlah dari pengalaman (keberhasilan maupun kegagalan) dimasa lalu, sebagai bahan rencana masa depan.
5.      Buatlah rencana kegiatan setiap hari.
6.      Lakukan kegiatan sosial yang menarik, disertai optimisme bahwa
hidup anda akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
7.       Jangan suka berdiam diri dan melamun, karena hanya akan  membangkitkan emosi dan pikiran negative
8.      Hilangkan rasa kesepian dan libatkan diri pada orang-orang  disekitar anda
9.      Lakukan olah raga santai atau kegiatan kebersamaan dengan  teman-teman untuk menjaga kondisi dan kesehatan tubuh
10.   Baca buku-buku yang dapat membangkitkan motivasi
11.  Jangan biarkan pesimisme menguasai pikiran dan perasaan.
12.   Menyiapkan diri untuk menjadi bawahan jika terpaksa harus  bekerja di tempat lain.
13.  Kembangkan hobi yang selama ini belum sempat terlaksana
14.  Pikirkan untuk menekuni usaha atau pekerjaan baru sesuai dengan usia dan hobi.
15.  Ambil kursus singkat untuk menunjang hobi dan usaha baru.
16.  Ambil inisiatif untuk terlibat dalam kegiatan rumah tangga.
17.  Hubungi teman-teman lama, siapa tahu ada sesuatu yang baru dan  menarik yang bisa di dapatkan.



















BAB III
KESIMPULAN

Post Power Syndrome adalah gejala-gejala setelah berakhirnya kekuasaan. Gejala ini umumnya terjadi pada orang-orang yang tadinya mempunyai kekuasaan, namun ketika sudah tidak berkuasa lagi, seketika itu terlihat gejala-gejala kejiwaan yang biasanya bersifat negatif atau emosi yang kurang stabil. Faktor-faktor penyebab Post Power Syndrome :
Pensiun, PHK atau pudarnya ketenaran seorang artis adalah salah satu dari faktor tersebut, kejadian traumatik juga misalnya kecelakaan yang dialami oleh seorang pembalap, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi, Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya .





























4 komentar: