Pages

Sabtu, 26 September 2015

ASAL MUASAL BERBAGAI PENDEKATAN KONSELING DAN TERAPI



                Semangat kemanusiaan mendasari penciptaan berbagai pendekatan teoritik konseling dan terapi. Sampai pada tingkat yang cukup jauh, teori-teori ini merefleksikan konteks historis kehidupan personal dan intelektual para pendirinya. Di samping itu, dipengaruhi oleh para penulis sebelumnya , para teoritisi tersebut teruatam dipengaruhi oleh keluarga asalnya. Beberapa faktor penting yang memengaruhi penciptaan dan perkembangan teori dan praktik konseling dan terapi.
Konteks Sejarah dan Budaya
                Pendekatan-pendekatan teoritik tidak dierami dan menetas dalam ruang vakum. Para teoritis ini dipengaruhi oleh konteks historis dan kultur hidup mereka. Misalnya, prevalensi represi seksual di Austria pada masa peralihan abad, telah memengaruhi Freud untuk mengembangkan sebuah teori yang menempatkan seksualitas memainkan peran besar. Contoh lainnya adalah, selama paruh pertama abad kedua puluh, orangtua cenderung lebih mendominasi keluarganya dibanding sekarang. Carl rogers (1961,1980) dibesarkan pada triwulan pertama abad itu.
Para Teoritis yang Terluka
                Asal muasal terapi perilaku lebih banyak terdapat dalam laboratorium hewan daripada dalam pengalaman personal para teoritis perilaku. Akan tertapi tanpa kecuali, semua teoritis lain yang karyanya dideskripsikan dalam tulisan ini, menghadapi periode-periode penderitaan psikologis yang signifikan dalam hidupnya. Observasi Jung bahwa “Only the wounded physician heals” (“hanya dokter yang terluka yang mampu menyembuhkannya”). Dapat diubah menjadi “only the wounded healer creates a counseling and therapy approach”  (“hanya peneyembuh yang terluka yang mampu menciptakan pendekatan konseling dan terapi”).
Para Teoritis yang Terluka
·         Sigmund Freud (psikoanalisis) selama bertahun-tahun menderita depresi periodik, suasana perasaan yang bervariasi secara ekstrem, serangan kecemasan yang tidak wajar, dan terkadang juga mengalami gangguan rasa takut mati, terserang pingsan dadakan, dan fobia berkendara kereta api.
·         Carl Jung (terapi analitik)  pada suatu tahap kehidupannya merupakan anak penyendiri, pada tahap perkembangan tertentu memanfaatkan serangan pingsan dadakan agar tidak harus masuk sekolah menengah. Pada usia akhir 30-an dan awal 40-an, Jung mengalami gejala-gejala yang mirip skizofrenia.
·         Carl Rogers (person-centered therapy)  pada masa kanak-kanaknya merupakan anak yang sangat pemalu dan penyendiri, tumbuh bersama anggapannya tentang orangtua yang ahli dalam memanipulasi emosi, namun tidak kentara. Rogers sering merasa tidak aman mengungkapkan terlalu banyak perasaan pribandinya, karena takut dinilai negatif.
·          Fritz Perls (terapi Gestalt) tumbuh dalam keluarga yang mengalami hendaya (distres),  orangtua banyak bertengkar baik secar lisan maupun fisik. Ibunya kerap memukulinya dengan alat pemukul yang digunakan untuk menghilangkan debu di karpet dan ia membenci ayahnya yang menyombongkan kebajikan.
·         Eric Berne (analisis transaksional) ketika berumur 11 tahun, ayahnya yang seorang dokter  dan dikasihinya meninggal karena TBC, meninggalkan ibunya untuk membesarkan dirinya dan saudara perempuannya.
·         William Glasser (terapi realitas) pada umur 4 tahun ia menyadari bahwa kedua orangtuanya sangatlah tidak cocok. Ayahnya adalah seorang yang lembut dan nonposesif, sementara itu ibunya sangat enerjik, bahkan dikhayalkannya kalau ada even pertandingan olimpiade tentu akan meraih medali emas. Grasser sangat pemalu selama menjadi mahasiswa S1 dan boleh jadi juga pada usia sebelumnya.
·         Irvin Yolom dan Rollo May (terapi eksistensial) Yolom tumbuh bersamaan dengan kebencian terhadap ibunya yang kerap kali berkata menyakitkan. May dibesarkan dalam atmosfer keluarga yang tidak serasi dan tidak bahagia. Ia menggambarkan ibunya sebagai “gembong kucing-anjing betina”
·         Viktor Frankl (logo terapi) ketika masih muda, Frankl merupakan laki-laki putus asa tanpa kehidupan yang berarti. Setelah itu ia mengalami horor kamp konsentrasi Nazi Jerman dan pemusnahan anggota keluarga.
·         Albert Ellis (rational emotive behavior therapy) ketika usia kanak-kanak dan remaja, Ellis adalah anak yang sakit-sakitan, pemalu, dan tertutup. Ibunya selalu suka ikut campur, tetapi menelantarkannya. Ayahnya pun menghilang tidak ketahuan rimbanya. Tiba-tiba pada usia 12 tahun, Ellis menemukan orangtuanya telah bercerai.
·         Aaron Beck (terapi kognitif) ibunya mengalami depresi mendalam secara periodik, pemurung dan tidak konsisten. Selama dalam usia pertumbuhan, Beck terlanda kecemasan dan ketakutan mendalam pada operasi, bicara di depan umum dan ketinggian.
·         Arnold Lazarus (terapi multimodal) Lazarus adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan tumbuh dengan perasaan terabaikan dan merasa tidak dihargai di rumah. Perasaan ini berkontribusi secara signifikan terhadap suburnya perasaan malu, kurang memadai, dan hipersensitif. Masa kecil Lazarus kurus kering dan kerap kali menjadi korabn bullying (gertakan).

Jika banyak pihak beranggapan bahwa para penemu teori konseling dan terapi mengalami penderitaan psikologis, pertanyaannya ialah:  bagaimana hali itu berpengaruh terhadap teori-teori mereka ? Bagi sebagian teoritis terkemuka, malu bertatap muka dengan orang-orang mungkin telah menstimulasi keinginan untuk berkomunikasi melalui kata-kata secara tertulis. Di samping itu, setelah mengalami sendiri berbagai penderitaan, teoritis mungkin termotivasi untuk mengembangkan teori yang dapat mengurangi penderitaan orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar